Selamat Maal-Hijrah 1435H

Selamat Maulidurrasul

Friday, April 24, 2020

Bahaya Jika Salah Faham Hadis ‘Memerangi Orang-orang Musyrik’



Bahaya Salah Memahami Hadits ‘Memerangi Orang-orang Musyrik’

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi; tidak ada Ilah (Tuhan) kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah." (HR. Bukhari-Muslim)

Sebagian orang mempunyai pemahaman yang kurang baik terhadap hadits ini. Mereka memahami hadits ini sebagai perintah dari agama untuk memerangi semua orang musyrik (non-Muslim) hingga mereka mengucapkan syahadat. Efeknya, sering terjadi kekerasan atau penyerangan terhadap non-Muslim dengan berdalih pada hadits ini. Mereka meyakini apa yang dilakukannya itu merupakan sesuatu yang benar dan diperintahkan oleh agama.

Tidak heran jika Syekh Muhammad al-Ghazali menyebut hadits ini sebagai hadits yang madhlûm (terzalimi). Benarkah demikian? Mari kita pahami hadits ini dengan baik, sesuai dengan pemahaman bahasa Arab yang baik, sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan sesuai dengan latar belakang munculnya (asbabul wurud) hadits ini.
Siapakah An-Naas (Manusia) yang Dimaksud dalam Hadits itu? Redaksi hadits di atas bila kita terjemahkan secara literal akan berbunyi: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi: tidak ada ilah (Tuhan) kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah."

Siapakah yang dimaksud dengan an-nâs (manusia) pada hadits di atas? Apakah semua manusia, non-Muslim, atau siapa? Untuk memahami sabda Nabi yang baik kita harus mengacu pada pemahaman bahasa di mana Nabi ﷺ menggunakan bahasa itu, yaitu bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an.

Di dalam Al-Qur’an ketika disebutkan kata an-nâs, maka yang dimaksud adalah sebagian manusia, baik dalam jumlah kecil, maupun dalam jumlah besar. Bahkan terkadang ada yang dikehendaki hanyalah satu orang saja. Bukan semua manusia.
Mau bukti? Simak penjelasan berikut ini.

Dalam surat Al-Hajj: 27, Allah ﷻ berfriman: وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ.
“Dan berserulah kepada an-nâs (manusia) untuk mengerjakan haji.” (QS. Al-Hajj: 27)
Siapakah yang di maksud dengan an-nâs pada ayat ini?
Yang dimaksud adalah orang-orang Muslim saja. Non-Muslim tidak masuk dalam kata an-nâs ini.

Pada ayat yang lain, Allah ﷻ berfirman: وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ.
“Dan dia berbicara dengan an-nâs (manusia) dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Ali ‘Imraan : 46)
Siapa yang dimaksud dengan an-nâs pada ayat ini?
Yang dimaksud adalah orang-orang yang berbicara kepada Maryam tentang anaknya (Nabi ‘Isa ‘alaihis salâm). Hanya sebagian orang, bukan semua manusia.

Allah ﷻ juga berfirman: يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ.
“(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada an-nâs (orang-orang itu), agar mereka mengetahuinya." (QS. Yusuf: 46)
Siapakah yang dimaksud dengan an-nâs pada ayat ini?
Yang dimaksud adalah Raja Mesir dan para pengikutnya yang mengutus pelayan itu untuk menemui Nabi Yusuf AS.

Allah ﷻ berfirman: الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ.
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya an-nâs (manusia) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali ‘Imraan: 173)
Siapakah an-nâs pada ayat ini?
An-nâs pada ayat ini menurut Mujâhid, Muqâtil, Ikrimah dan Al-Kalbiy adalah Nu’aim bin Mas’ud. (Tafsir Al-Qurthubiy: 4: 279).

Allah ﷻ juga berfirman: أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ.
“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?” (QS. An Nisaa’: 54)
An-nâs (manusia) yang dimaksud pada ayat di atas adalah Nabi Muhammad ﷺ. Dengan demikian, penggunaan kata an-nâs pada beberapa ayat di atas, meskipun redaksinya umum, namun yang dikehendai adalah orang-orang tertentu, bukan semua manusia.

Demikian juga pada hadits di atas, yang dimaksud dengan an-nâs (manusia) yang harus diperangi adalah kelompok manusia tenrtentu, bukan semua manusia. Lalu siapakah an-nâs yang layak diperangi pada hadits di atas? Para ulama berbeda pendapat dalam menafsiri kata an-nâs yang terdapat pada hadits di atas.

Pertama, an-nâs yang dimaksud pada hadits di atas adalah orang-orang musyrik, karena dalam riwayat yang lain ada hadits yang berbunyi: “Aku diperintahkan untuk membunuh orang-orang musyrik.”

Kedua, yang dimaksud dengan an-nâs pada hadits di atas adalah orang-orang yang memerangi umat Islam. Kelompok ini tidak sepakat jika an-nâs pada hadits di atas yang dimaksud adalah orang-orang musyrik.
Kelompok kedua ini di antaranya adalah Ibnul ‘Arabi al-Maliki. Ia berpendapat bahwa ayat-ayat yang berbunyi “faqtulû al-musyrikîn” (perangilah orang-orang musyrik) harus dipahami bahwa yang dimaksud di situ adalah orang-orang musyrik yang memerangi umat Islam, bukan semua orang musyrik.

Hal ini karena beberapa hadits telah menjelaskan bahwa perempuan, anak kecil, pendeta, dan orang-orang yang lemah tidak boleh untuk diperangi. Dengan demikian lafadh an-nâs (manusia yang boleh diperangi) pada hadits di atas adalah orang-orang musyrik yang memerangi umat Islam.
Pendapat kedua ini juga di dukung oleh Ibnu Taimiyah. Ia berpendapat, manusia yang boleh diperangi hanyalah orang-orang musyrik yang menghunuskan pedang mereka untuk menyerang umat Islam, bukan orang-orang musyrik yang berdamai dengan orang Islam. Ibnu Taimiyah menguatkan pendapatnya ini dengan firman Allah ﷻ yang artinya: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190).
Mereka ini adalah orang-orang musyrik yang menyiapkan dirinya untuk berperang. Adapun orang-orang musyrik yang tidak memerangi umat Islam, seperti para pendeta, orang-orang yang sudah tua renta, perempuan dan anak-anak, mereka semua tidak boleh diperangi. Pendapat ini juga didukung oleh Ibnul Qayyim Al-Jawziyah, Ibnu Rajab Al-Hanbali, Al-Amir Ash Shan’ani, Syekh Muhammad al-Ghazali, Syekh ‘Abdullah bin Zaid (ulama Qatar) dan Syekh Yusuf Al-Qardlawi.

Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa yang dimaksud dengan an-nâs (manusia) yang boleh diperangi pada hadits di atas adalah orang-orang musyrik yang mengangkat senjata memerangi umat Islam.
Pemahaman seperti ini sesuai dengan manhaj yang mengkompromikan semua dalil, baik dari Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi ﷺ, sehingga tidak terjadi pertentangan di antara dalil-dalil itu. Juga tidak menggugurkan sebagian dalil-dalil itu.

Di sisi lain, redaksi hadits sejenis dengan berbagai macam jalur riwayatnya tidak ada yang menggunakan redaksi “umirtu an aqtula”.
Semua hadits yang sejenis dengan hadits di atas menggunakan redaksi “umirtu an uqaatila”.
Dua redaksi “an aqtula” dengan “an uqaatila” mempunyai perbedaan makna yang signifikan.
Redaksi “an uqaatila” menunjukkan bahwa perbuatan penyerangan itu dilakukan oleh dua pihak.
Ini berbeda dengan “an aqtula” yang hanya dilakukan oleh satu pihak. Ini artinya, perintah memerangi orang-orang musyrik pada hadits di atas adalah ketika orang-orang musyrik itu terlebih dahulu memerangi umat Islam.

Prinsip Kebebasan Beragama dalam Islam

Memahami hadits di atas sebagai perintah untuk memerangi non-Muslim merupakan pemahaman yang tidak benar dan akan bertentangan dengan sekian ayat Al-Qur’an yang memberikan pilihan kepada manusia untuk memilih agama sesuai yang diyakininya.
Allah ﷻ berfirman: “Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." (QS. Al-Kahfi: 29),
“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yuunus: 99),
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 21-22).

Ayat-ayat ini menjadi bukti yang nyata bahwa dalam urusan memilih keyakinan, Islam sama sekali tidak pernah memaksa seorang pun untuk memeluk Islam. Islam sangat menghargai kebebasan memeluk agama sesuai dengan yang diyakini oleh pemeluk agama itu.

Fakta Sejarah Menunjukkan Nabi Tidak Pernah Memerangi Atau Membunuh Orang-Orang Musyrik Hanya Karena Kemusrikannya

Sejarah mencatat Rasulullah ﷺ tidak pernah membunuh seorang musyrik pun hanya karena ia seorang musyrik.
Dalam Shahih Bukhari dikisahkan dari Abu Hurairah RA, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ mengirim pasukan menuju Nejed, lalu mereka menangkap seseorang dari Bani Hanifah, Tsumamah bin Utsal pemimpin penduduk Yamamah, kemudian mereka mengikatnya pada salah satu tiang masjid, lalu Rasulullah ﷺ menemuinya dan bersabda kepadanya: "Apa yang kamu miliki hai Tsumamah?" Ia menjawab, "Wahai Muhammad, aku memiliki apa yang lebih baik, jika engkau membunuhnya maka engkau telah membunuh yang memiliki darah, dan jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, namun jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa saja yang engkau inginkan."

Kemudian Rasulullah ﷺ meninggalkannya, hingga keesokan harinya beliau bertanya, "Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?" Ia menjawab, "Seperti yang aku katakan, jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, jika engkau membunuh maka engkau membunuh yang memiliki darah, jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa yang engkau mau."

Lalu Rasulullah ﷺ meninggalkannya, hingga keesokan harinya beliau bertanya lagi: "Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?" Ia menjawab, "Seperti yang aku katakan, jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, jika engkau membunuh maka engkau membunuh yang memiliki darah, jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa yang engkau mau."
Rasulullah ﷺ kemudian bersabda kepada sahabatnya; "Bawalah Tsumamah" lalu mereka pun membawanya ke sebatang pohon kurma di samping masjid, ia pun mandi dan masuk masjid kembali, kemudian berkata;
"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan hanya Allah dan bahwasanya Muhammad itu utusan Allah, demi Allah, dahulu tidak ada wajah di atas bumi ini yang lebih aku benci selain wajahmu, namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai dari pada yang lain, dan demi Allah, dahulu tidak ada agama yang lebih aku benci selain dari agamamu, namun saat ini agamamu menjadi agama yang paling aku cintai di antara yang lain, demi Allah dahulu tidak ada wilayah yang paling aku benci selain tempatmu, namun sekarang ia menjadi wilayah yang paling aku cintai di antara yang lain, sesungguhnya utusanmu telah menangkapku dan aku hendak melaksanakan umrah, bagaimana pendapatmu?"
Maka Rasulullah ﷺ memberinya kabar gembira dan memerintahkannya untuk melakukan umrah, ketika ia sampai di Makkah seseorang berkata kepadanya; "Apakah engkau telah murtad?"
Ia menjawab; "Tidak, tetapi aku telah masuk Islam bersama Muhammad ﷺ, dan demi Allah tidaklah kalian akan mendapatkan gandum dari Yamamah kecuali mendapatkan izin dari Rasulullah ﷺ."

Seandainya Rasulullah diperintahkan untuk membunuh orang-orang musyrik, niscaya Rasulullah ﷺ sudah membunuh Tsumamah saat ia pertama kali tertangkap. Saat perang Badar selesai dan dimenangkan oleh umat Islam, pihak Muslim mendapatkan banyak tawanan dari orang-orang kafir Quraisy, sebagian tawanan-tawanan itu adalah para tokoh-tokoh utama Quraisy, seperti Suhail bin ‘Amr. Terhadap tawanan-tawanan itu Rasulullah berpesan kepada para sahabatnya agar memperlakukan mereka dengan baik.

Rasulullah ﷺ juga meminta tebusan kepada keluarga tawanan tersebut jika ingin bebas. Jika tawanan itu tidak ada yang menjamin, maka tebusan agar dapat bebas adalah dengan mengajarkan baca tulis kepada umat Islam. Jika Nabi ﷺ diperintahkan untuk membunuh orang musyrik secara umum, maka tentunya Nabi tidak akan memperlakukan tawanan-tawanan musyrik dengan sebaik itu, bahkan tidak mungkin Nabi ﷺ meminta tebusan untuk para tawanan itu dengan mengajarkan baca tulis.

Masih banyak lagi bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah memerangi atau membunuh orang-orang musyrik hanya karena kemusrikannya.
Praktik adanya muamalah atau transaksi jual beli di zaman Nabi ﷺ antara umat Islam dengan orang-orang musyrik juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ dan umat Islam pada waktu itu tidak memerangi mereka.

Dalam tinjauan asbbabu wurudil hadits, para ulama menegaskan bahwa hadits di atas muncul berkaitan dengan orang-orang musyrik Arab yang saat itu memerangi dakwah Nabi ﷺ.
Mereka memusuhi dakwah Nabi ﷺ sejak pertama kali beliau berdakwah mengajak orang-orang untuk menyembah Allah ﷻ tanpa menyekutukannya.
Orang-orang musyrik Arab ini juga menyiksa kaum Muslimin yang lemah selama tiga belas tahun lamanya dan memerangi Nabi ﷺ selama sembilan tahun saat beliau berada di Madinah.
Mereka juga melanggar perjanjian damai yang telah disepakati bersama orang-orang Muslim.
Jadi, ketika Nabi ﷺ bersabda: "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi; tidak ada Ilah (Tuhan) kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah”, sasaran dari sabda Nabi itu ditujukan untuk orang-orang musyrik Arab yang memerangi umat Islam, bukan orang-orangmusyrik secara umum.

Wallahu A’lam.

Muhammad Kudhori, Dosen STAI Al-Fithrah Surabaya Tags: hadits musthalah

Tags: hadits musthalah

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/90379/bahaya-salah-memahami-hadits-memerangi-orang-orang-musyrik

Tuesday, March 31, 2020

Jom baca dalam bahasa Hebrew! Muhammad di dalam kitab Injil.Song of Solomon 5:16 read in Hebrew

Prophet Muhammad in the Bible detailed

Friday, December 20, 2019

Tahniah Maahad Tahfiz Sains Darul Aman @ MTSD!


Keempat MIISMAM Kebangsaan 2019 | Naurah Im-Tie-Yaz

Johan (P) Nasyid Ihtifal Ilmi Negeri Kedah 2019| Naurah Im-Tie-Yaz


Johan (P) Nasyid Ihtifal Ilmi Zon Maktab Mahmud 2019 | Naurah Im-Tie-Yaz

Sunday, August 5, 2018

Allah Tak Nak Hamba-Nya Masuk Neraka

DUNIA atom ini, ada di antara penganut agama Islam sendiri berburuk sangka dengan Allah dan Islam. Kata mereka bahawa Islam adalah agama yang mengharamkan kegembiraan. Arak diharamnya, babi diharamnya, zina diharamnya, pendek kata semua Islam haram. Jika lakukan, kufur, masuk neraka. Tambah mereka lagi, memang betul kata nabi, “dunia ibarat penjara bagi orang mukmin dan syurga bagi orang kafir.”

Persoalannya, adakah benar akan segala tohmahan ini? Jika difikirkan secara logik akal, secara rasional, ada benarnya namun perlu diingatkan bahawa agama tidak berdiri dengan akal tetapi agama berdiri dengan wahyu. Jadi, terkadang akal yang terhad ini tidak dapat menjangkau kehendak Tuhan, maka atas paksi itulah Rasul diutuskan.


KISAH ORANG BUTA DAN GAJAH



Kisah orang buta dan gajah, cukup terkenal.  Hampir kesemua orang pernah mendengarnya namun kisah ini belum habis.  Ada hikmah yang cuba disembunyikan.  Seorang buta terpegang ekor gajah,  maka diberitahu kepada rakan-rakannya yang lain bahawa gajah itu bentuknya seperti tali.  Tetapi pendapatnya dicanggah oleh seorang buta lain yang terpegang badan gajah. Katanya, “bukan, gajah itu seperti dinding, besar.  ”Seorang buta yang lain pula terpegang kaki gajah,  lalu diumum bahawa gajah itu bukan seperti tali ataupun dinding, tetapi gajah itu seperti sebatang pokok balak.

Apa yang dinilai oleh orang-orang buta itu,  semuanya salah.  Tiada seorang pun dapat mendiskripsikan gajah itu dengan bentuk yang sebenar.  Kerana apa?  Kerana penglihatan mereka terhad,  penglihatan mereka terbatas maka apa yang dilakukan oleh mereka juga terbatas.


Disambungkan cerita itu, semua orang buta itu kehairanan,  bagaimana sebenarnya seekor gajah.  Kalau gajah itu bukan seperti tali, bukan seperti dinding dan bukan juga seperti sebatang balak,  gajah itu bagaimana? Tiba-tiba tangan mereka ditarik oleh seorang yang celik,seorang yang diberi penglihatan oleh Tuhannya untuk mengenal bentuk sebenar gajah.    Si buta yang pegang ekor gajah tadi dibawa untuk pegang badan dan kaki gajah, begitu juga yang lain.  Lalu mereka berkata, “owh, rupanya inilah gajah.”
Si buta yang perbuatannya, penilaiannya terbatas itulah kita.  Manusia biasa dengan akal yang terbatas untuk memikirkan perkara-perkara ghaib. Keterbatasan inilah yang menyebabkan manusia menyembah air, api, matahari bahkan kemaluan pasangan masing-masing!  Dalam beragama,  akal yang logik bukanlah satu alat yang sesuai.  Benar,  kadang-kadang akal yang logik dan rasional perlu,  tetapi ingat bahawa itu hanyalah kadang-kadang.   Akal ini bukan sahaja terbatas dalam berfikir hal-hal ghaib,bahkan dalam hal-hal kehidupan seharian pun akal ini terbatas.  Jika tidak percaya, cuba jawab soalan di bawah:

    54 X 54 = ? Insya Allah anda dapat menjawabnya, tapi bagaimana pula dengan yang di bawah: 5938474903 X 8937575482923748923 = ? Pasti tanpa bantuan kalkulator anda tidak mampu menjawabnya.
Bantuan kalkulator, apa maknanya? Akal kita terbatas! Jadi,jangan gunakan akal dalam menghakimi hukum Allah, pasti anda SESAT!



ALLAH TIDAK MAHU HAMBANYA MASUK KE DALAM NERAKA


Islam agama yang menyekat kebebasan? Betul, Islam agama yang menyekat kebebasan penganutnya daripada memilih neraka! Allah tidak ingin walaupun seorang daripada hamba Nya dicampakkan ke dalam neraka. Buktinya, apa sahaja yang kita buat di atas muka bumi ini, jika perkara itu mendatangkan manfaat kepada kita dan orang lain, kita dapat pahala.  Senyum, dapat pahala.  Makan nasi, dapat pahala.  Buang sampah, dapat pahala.  Urut badan kawan, dapat pahala.  Bahkan,niat baik pun dapat pahala.  Senang cerita, semua yang baik, pasti pahala adalah ganjarannya.

Berbeza pula dengan dosa. Dikatakan apabila seseorang melakukan dosa, malaikat Rakib melarang malaikat Atib daripada menulisnya.  Disuruhnya tunggu sehingga pelaku melakukan 10 kesalahan.  Apabila 10 kesalahan dibuat,   Rakib menyuruh Atib melihat adakah si pelaku ada melakukan kebaikan semasa dia melakukan 10 kesalahan.  Jika ada, kesalahan - kesalahan tadi diampunkan dan jika tiada, 10 kesalahan tadi ditulis sebagai 1 kesalahan.  Istimewanya lagi,  si pelaku masih boleh menghilangkan dosa itu dengan bertaubat.  Inilah yang dimaksudkan oleh Ibnu Umar dalam satu kisah beliau dengan sahabat-sahabat.

    Suatu hari,  Ibnu Umar masuk ke dalam masjid dan mendapati ada sekumpulan sahabat yang sedang mengira dengan anak-anak batu.  Maka Ibnu Umar bertanya, “apakah kalian sedang lakukan?” Salah seorang sahabat menjawab, “kami sedang mengira dosa-dosa yang telah kami lakukan.” Mendengarkan jawapan daripada sahabat,  Ibnu Umar membalas, “berhenti lah kalian daripada mengira dosa-dosa kalian kerana dosa-dosa kalian pasti hilang.  Sebaliknya berzikirlah kerana pahalanya kekal abadi.”
Dilambangkan oleh ulama’ betapa Allah tidak mahu hamba Nya masuk ke dalam neraka dalam satu kisah.  Kisah ini bukanlah kisah yang sahih tetapi kisah ini merupakan satu metafora untuk menunjukkan betapa Ehsan, Pemurahnya Allah.

Di akhirat esok,  seorang ditakdirkan untuk masuk ke dalam neraka.  Apabila dia mendengar bahawa dirinya Ahli neraka, dengan pantas dia berlari ke neraka.  Maka Allah bertanya walaupun Allah sudah tahu jawapannya, “Wahai hamba Ku, kenapa kamu berlari ke neraka?  ”Orang itu menjawab, “Ya Tuhan ku, semasa aku hidup, aku tidak pernah menunaikan perintah Mu walaupun satu.  Maka pada hari ini aku nekad untuk tunaikan perintah Mu dengan bersungguh-sungguh.”  Maka dengan nekadnya itu, Allah memasukkannya  ke dalam syurga.  Pengajaran daripada perlambangan ini ialah betapa Allah tidak ingin hamba Nya masuk ke dalam neraka sehingga di akhirat esok pun,Allah akan beri keampunan Nya.  (Perlambangan)



ISLAM ADA PENYELESAIANNYA 


Islam adalah satu cara hidup yang menjamin keselamatan penganutnya. Malah,  apabila didefinisikan Islam secara bahasa pun, maksudnya selamat. Inilah istimewanya Islam, namanya pun tidak bersandar kepada sesiapa.  Berbeda dengan Yahudi yang merujuk kepada Yahuda, Kristian yang berkait dengan nama Yesus Christ dan Buddha yang mengguna pakai nama pengasasnya, Gautama Budda.  Tetapi Islam?  Islam bebas daripada mana-mana nama, Muhammad mahupun Allah.

Apabila Islam melarang sesuatu, maka ada hikmahnya.  Pasti apa yang dilarang itu banyak mendatangkan keburukan daripada kebaikan.  Kita tidak nafikan, arak contohnya, arak ada kebaikannya tapi perlu ditulis kembali apa yang ada di dalam Al-quran dalam surah Al-Baqarah, ayat 219:

    “”Mereka bertanya kepadamu (Wahai Muhammad) mengenai arak dan judi. Katakanlah: “Padakeduanya ada dosa besar dan ada pula beberapa manfaat bagi manusia tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya” dan mereka bertanya pula kepadamu:” Apakah yang mereka akan belanjakan (dermakan)?”  Katakanlah: “Dermakanlah ( apa-apa) yang berlebih dari keperluan (kamu).”  Demikianlah Allah menerangkan kepada kamu ayat-ayatNya (keterangan-keterangan hukumNya) supaya kamu berfikir”
Al-Quran sendiri mengakui bahawa arak itu ada kebaikan tetapi keburukannya melebihi kebaikan,maka ia diharamkan.  Semuanya demi manfaat siapa?  Demi manfaat kita sendiri.  Jika kita minum arak, adakah Allah yang akan sakit?  Atau MalaikatNya yang akan mabuk, lalu runtuh Arasy yang dipegang mereka?  Tidak,  yang mabuk itu kita,yang sakit itu pun kita.

Allah tahu apa fitrah ciptaan Nya maka Dia ciptakan alternatif untuk hamba-hamba Nya.  Alternatif itu apa?  Alternatif itu Islam.  Allah mengharamkan arak tetapi Dia benarkan air cofee,  jus epal, horlick tabur milo dan kopi anak jantan.   Allah haramkan babi tetapi Allah benarkan kita makan ayam,  ayam belanda,  ayam israil dan kambing.  Allah haramkan zina tetapi Allah halalkan perkahwinan sehingga 4 orang bagi lelaki.  Semua yang diharamkan, ada jalan keluarnya.  Masalahnya, kita yang tidak tahu.Kenapa kita tidak tahu sedangkan kita Islam?  Kita ego, kita tidak mahu belajar,  kita merasakan diri kita sudah cukup dengan ilmu-ilmu.



ISLAM BUKAN AGAMA YANG RIGID



    “Kamu gerak lebih daripada 3 kali,batal solat!” “Kamu telan air liur banyak sangat, batal puasa!” “Kamu sentuh babi, haram!” “Kamu kawan dengan bukan Islam, neraka!” “Kamu couple,tak masuk syurga!” “Kamu tertinggal solat, kufur!”

Wah, wah, wah.  Strict betul Islam yang kita anuti.  Tidak boleh lakukan satu kesalahan walaupun kesalahan itu bukan kesalahan yang disengajakan. Ini kena dapat keistimewaan maksum dahulu baru boleh peluk Islam, barulah tidak kufur, tidak masuk neraka.

Silap, ini merupakan satu kesilapan yang sangat besar.

Islam bukanlah satu peraturan,  tetapi Islam merupakan satu cara hidup.   Apabila berbicara tentang cara hidup, ia mestilah bersesuaian dengan subjek yang dibicarakan.  Contohnya apabila kita berbincang tentang cara hidup kambing.  Maka dalam topik ini,kita akan bincang bagaimana kambing makan bukan bagaimana lembu makan.  Kita akan bincang apakah kelemahan kambing dan bukan apakah kelemahan hamster.  Maksudnya,  apabila kita mengatakan Islam adalah cara hidup manusia, maknanya, Islam membicarakan tentang manusia,  bukan tentang kambing.

Allah menciptakan manusia sebaik-baik kejadian, bukan sesempurna kejadian maka tidak pelik jika ada di antara manusia yang melakukan kesalahan kerana kita bukanlah sempurna. (rujuk:Yang Sempurna Bukanlah Yang Terbaik) Malah dikuatkan lagi dengan satu hadis nabi yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi yang bermaksud:

     “Semua anak Adam melakukan kesalahan.   Sebaik-baik yang melakukan kesalahan itu ialah mereka yang bertaubat”
Dengan mengambil kira kelemahan-kelemahan yang ada pada manusia, terbitlah Islam sebagai satu agama yang sempurna.  Kenapa Islam sempurna? Kerana tidak kira siapa, tanpa mengira apa jenis kelemahan manusia ada,  tanpa mengira apa jenis kelebihan manusia ada,  Islam sesuai untuk mereka,  untuk kita semua.  Contohnya, Islam suruh umatnya solat, yang sempurna kena solat berdiri, yang sakit kaki pula boleh solat secara duduk, yang tidak boleh duduk pula boleh solat secara baring.  Maka dengan itu,Islam adalah agama yang sempurna.

Ana secara jujur begitu sedih apabila mendengar kisah-kisah saudara-saudara baru ketika mereka ingin memeluk Islam.  Ada yang berjumpa dengan Imam masjid, Pak Imam cakap kalau nak peluk Islam kena daftar di pejabat agama.  Maka si muallaf ini pergi ke pejabat Islam.  Di pejabat Islam,ustaz suruh isi borang itu, borang ini, barulah dapat masuk Islam.  Yang lebih teruk,  Pak Ustaz tanya, “dah bersunat? Kalau belum, kena bersunat dulu baru dapat masuk Islam.”  Penat. Susah. Payah.  Adakah ini Islam yang diajar oleh Baginda Rasululullah?

    Suatu ketika seorang lelaki datang berjumpa dengan baginda dan menyatakan hasratnya untuk memeluk Islam tetapi lelaki itu tidak ingin meninggalkan zina.  Rasulullah mengajarnya mengucap dua kalimah syahadah dan dia masuk Islam.  Dia bertanya kepada Rasulullah adakah dia kena tinggalkan zinanya? Maka Rasulullah membalas, “jangan menipu.”

Dipendekkan cerita, lama-kelamaan si penzina itu bertaubat dan tidak lagi berzina.  Inilah yang Rasulullah ajar!

Fulan seorang peminum arak yang tegar dan ditakdirkan suatu hari dia ingin berubah.  Dia berjumpa dengan Imam untuk mengajarnya untuk bertaubat. Pak Imam tua yang berserban sebesar pasu bunga itu menegaskan, “haram minum arak.  Jangan minum walaupun setitis.”  Si Fulan yang sememangnya kamcing dengan arak tidak dapat berpisah dengan arak, lalu dibuat pilihan antara berubah dan arak, dia pilih arak.  Adakah ini yang Allah ajar?



POHONLAH AMPUN DARI YANG MAHA PENGAMPUN


Diriwayatkan oleh Imam Tarmizi bahawa suatu hari Rasulullah mendengar seorang sahabat telah berzina dengan seorang gadis.  Maka Rasulullah memanggil sahabat tersebut.

    “Apakah benar berita yang aku dengar?” Tanya baginda. “Berita apa yang engkau dengar ya Rasulullah?” Tanya sahabat balik. “Apakah benar engkau telah bersetubuh dengan si fulan binti si fulan?” Soal Rasulullah dengan sedikit hiba di hati baginda. “Ya Rasulullah,” jawab sahabat yang dalam ketakutan. Maka Rasulullah bertanya lagi soalan yang sama sebanyak dua kali dan sahabat membalas dengan jawapan yang sama, juga dua kali.  Lalu Rasulullah memalingkan mukanya ke kanan, sahabat pergi ke kanan,  Rasulullah memalingkan muka baginda ke kiri.  Begitulah sebaliknya sehingga sahabat tadi berkata, ”apakah engkau tidak sudi melihat muka ku?” Rasulullah menjawab, “adakah engkau gila?”
Terdapat  Dua pendapat ulama’ tentang hadis di atas berdasarkan pandangan dari dua sudut, dari sudut Rasulullah dan dari sudut sahabat.  Pada pendapat sahabat, jika dia dihukum di dunia, dia tidak akan dihukum lagi di akhirat.   Oleh sebab itu dia mengaku kesalahannya.  Pada pendapat Rasulullah pula,  jika dosa itu antara manusia dan Allah,  cukuplah dengan bertaubat, insya Allah, Allah ampunkan.
Tidak kisahlah besar mana dosa kita, jahat mana pun diri kita, ingatlah bahawa Allah sentiasa ada untuk kita.  Dia melihat kita walaupun kita tidak melihat Nya.  Dia meminati kita walaupun kita tidak meminati Nya.  Dia mencintai kita walaupun kita tidak mencintai Nya.  Dia ada untuk kita.

Allah sangat sukakan hamba-hamba yang menyesal,yang mengaku kesalahan diri sendiri.  Sudah menjadi fitrah manusia suka menyalahkan orang lain, jadi Allah sangat gembira apabila manusia itu mengaku bahawa kesalahan itu berpunca daripada diri sendiri.Allah sukakan hamba-hamba yang ketepikan ego mereka.

    Dalam sebuah negeri, tinggal seorang pembunuh yang telah membunuh 99 orang.  Ditakdirkan bahawa dia ingin berubah, jadi dia pergi berjumpa dengan seorang imam dan meluahkan perasaannya yang dia ingin berubah tetapi Imam memberi satu jawapan yang tidak enak didengar. ”Kamu sudah bunuh 99 orang,kalau bertaubat pun sudah tiada guna, terlambat!” Marah Imam.  Dek kerana tidak senang dengan jawapan Imam,lalu dia membunuh Imam, lantas mencukupkan koleksi nyawanya menjadi 100 orang. Suatu hari, dia terdengar cerita jika ingin bertaubat,pergilah berjumpa dengan syeikh di Timur Tengah.   Dalam perjalanannya ke Timur Tengah, dia meninggal dunia dan dia adalah ahli syurga kerana dia mati dengan niat ingin berubah.
Pintu taubat sentiasa terbuka untuk kita, bila-bila masa dan di mana jua.  Jika anda rasa ingin menangis kerana takutkan Allah, menangislah segera.  Jangan ditunggu waktu qiamullail baru anda ingin menangis, nanti sampai bila-bila pun anda tidak akan menangis.

Biasa kita terima,  apabila kita ingin berubah menjadi baik,  manusia di sekeliling akan menghina kita, membenci kita malah ada yang memulaukan kita.  Satu perkara yang tersangat biasa. Nabi juga dihina, dibaling tahi dan dipulau oleh kaumnya sendiri tetapi nabi terus mara ke hadapan dan hasilnya, kita bernama Ahmad, Aida, Atiqah, Alia, Asraff. Andaikata Nabi berundur seperti kita berundur, pasti nama kita Ah Chong, Mutusami, Fei Mau dan Florance.  Bersyukurlah kerana nabi bukan macam kita,  senang mengaku kalah apabila dihina.

Konklusinya, jadilah Insan seperti nabi,apabila baginda merasakan diri baginda perlu berubah, ditinggalnya kemewahan, ditinggalnya isteri, demi memikirkan nasib kaumnya. Usah dipedulikan apa kata orang, tetapi pedulilah apa yang ALLAH kata.



:::: 6 Rajab 1431 ::::
[ Semua Gambar Adalah Hiasan]

_________________________________
Dipetik Tanpa Suntingan Dari:
azzariyat.com - memberi erti pada diri
http://azzariyat.com/allah-taknak-hamba-nya-masuk-neraka/

Shared By Bicara Hidayah