Selamat Maal-Hijrah 1435H

Selamat Maulidurrasul

Friday, October 6, 2017

Sejarah Bahasa Arab


Bahasa Arab adalah salah satu bahasa tertua di dunia. Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang awal mula munculnya bahasa Arab. Teori pertama menyebutkan bahwa manusia pertama yang melafalkan bahasa Arab adalah Nabi Adam –'alaihissalâm-. Analisa yang digunakan; Nabi Adam –'alaihissalâm- (sebelum turun ke bumi) adalah penduduk surga, dan dalam suatu riwayat dikatakan bahwa bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab, maka secara otomatis bahasa yang digunakan oleh Nabi Adam –'alaihissalâm- adalah bahasa Arab dan tentunya anak-anak keturunan Nabi Adam –'alaihissalâm- pun menggunakan bahasa Arab. Setelah jumlah keturunan Nabi Adam –'alaihissalâm- bertambah banyak dan tersebar ke pelbagai tempat, bahasa Arab –yang digunakan saat itu- berkembang menjadi jutaan bahasa yang berbeda. Teori ini kurang populer dikalangan ahli bahasa moderen, khususnya di kalangan orientalis, dengan asumsi  bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menyebutkan bahwa 'Adam –'alaihissalâm- menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari (daily language).

Sedangkan Schlözer, seorang tokoh orientalis, mengemukakan bahwa bahasa Arab termasuk rumpun bahasa Semit. Teori ini diambil dari tabel pembagian bangsa-bangsa di dunia yang terdapat dalam kitab Perjanjian Lama. Tabel ini menggambarkan bahwa setelah terjadinya banjir nabi Nuh, semua bangsa di dunia berasal dari tiga orang putera nabi Nuh –'alaihissalâm- yaitu Syam, Ham, dan Yafis. Nama Semit diambil dari nama Syam, putera Nabi Nuh –'alaihissalâm- yang tertua. Namun teori ini juga mempunyai kelemahan. Tabel penyebaran putera-putera Nuh –'alaihissalâm- yang disebutkan dalam Perjanjian Lama hanya membagi bangsa berdasarkan pertimbangan politik dan geografis semata, tidak ada sangkut pautnya dengan bahasa.
Dalam perkembangannya, bahasa Arab terbagi menjadi dua bagian besar yaitu bahasa Arab Selatan dan Bahasa Arab Utara. Dr. Basuni Imamuddin dalam makalahnya tentang sejarah bahasa Arab menjelaskan tentang pembagian bahasa Arab sebagai berikut,
Bahasa Arab terbagi menjadi dua yaitu bahasa Arab Selatan dan bahasa Arab Utara. Bahasa Arab Selatan disebut juga bahasa Himyaria yang dipakai di Yaman dan Jazirah Arab Tenggara. Bahasa Himyaria ini terbagi dua yaitu bahasa Sabuia dan bahasa Ma’inia. Tentang bahasa ini telah ditemukan artefak-artefak yang merujuk pada abad ke 12 SM sampai abad ke 6 M. Sedangkan bahasa Arab Utara merupakan bahasa wilayah tengah Jazirah Arab dan Timur Laut. Bahasa ini dikenal dengan bahasa Arab Fusha yang hingga kini dan masa-masa yang akan datang tetap dipakai karena al-Qur`an turun dan menggunakan bahasa ini. Bahasa ini mengalami penyebaran yang demikian luas bukan hanya di kalangan bangsa Arab saja tetapi juga di kalangan kaum muslimin di seluruh dunia.
Pada masa pra-Islam –atau yang lebih dikenal dengan jaman jahiliyah- bahasa Arab mulai mencapai masa puncaknya (prime condition). Hal ini diawali dengan keberhasilan orang-orang Arab Badui –di bawah pimpinan suku Quraisy- menaklukan penduduk padang pasir, sehingga mulai saat itu bahasa Arab dijadikan bahasa utama dan mempunyai kedudukan yang mulia di tengah kehidupan masyarakat sahara. Hal lain yang tidak bisa kita pungkiri untuk membuktikan kemajuan bahasa Arab pada masa jahiliyah adalah kemampuan masyarakat jahiliyah untuk menciptakan syair-syair indah baik dari segi retorika ataupun makna. Bahkan saat itu telah diadakan lomba pembuatan syair atau puisi, syair yang menjadi pemenang dalam perlombaan tersebut nantinya akan dipamerkan di tengah masyarakat dengan cara digantung di dalam Ka'bah, syair-syair ini dikenal dengan nama syair Mu'allaqât (الأشعار المعلقات). Penyair-penyair terkenal yang sering memenangkan perlombaan tersebut antara lain, Amru al-Qais, Zuhair bin Abi Salmi, Al-'Asya, Al-Hantsa, Zaid bin Tsabit, dan Hasan bin Tsabit. Kemajuan syair-syair Arab pada masa ini (jahiliyah, pen) tak luput dari perhatian ahli-ahli bahasa pada masa Islam, bahkan 'Abdullah bin 'Abbas –rahimahumallâh- menjadikan syair-syair jaman jahiliyah sebagai rujukan untuk mendefiniskan beberapa kata dalam al-Qur'an yang kurang jelas maknanya, "syair/puisi adalah referensi orang Arab...(الشعر ديوان العرب)".
Islam datang dengan diutusnya Nabi Muhammad -shallallâhu’alaihi wasallam-, saat itulah al-Qur'an diturunkan, tentu saja menggunakan bahasa Arab yang paling sempurna/baku (فصحي) dengan keindahan retorika dan kedalaman makna yang tak tertandingi. Allah -Subhânahu wa Ta’âla- tidak menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur'an melainkan karena ia adalah bahasa terbaik yang pernah ada. Allah -Subhânahu wa Ta’âla- berfirman, “Sesungguhnya Kami telah jadikan al-Qur'an dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.” (Yusuf: 2). Allah -Subhânahu wa Ta’âla-  juga berfirman, “Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Pencipta Semesta Alam, dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas" (Asy Syu’ara: 192-195). Keindahan bahasa al-Qur'an juga diakui oleh Janet Holmes, orientalis pemerhati bahasa. Dia mengatakan bahwa al-Qur'an dilihat dari segi sosiolinguistik atau teori diglosia dan poliglosia mengandung high variety (varitas kebahasaan yang tinggi).
Diturunkannya al-Qur'an dengan bahasa Arab menandai terjadinya revolusi fungsi pembelajaran bahasa Arab. Paska diturunkannya al-Qur'an, dorongan untuk mempelajari bahasa Arab lebih dikarenakan faktor agama daripada faktor-faktor lainnya (ekonomi, politik dan sastra). Bahkan bisa dikatakan bahwa perkembangan bahasa Arab berbanding lurus dengan penyebaran agama Islam.
Adapun penulisan huruf Arab telah dimulai jauh lebih dulu dari pada turunnya al-Qur`an. Namun saat itu huruf Arab belum mengenal titik dan harakat, sehingga paska meninggalnya Rasulullah -shallallâhu’alaihi wasallam- dan beberapa sahabat, mulai muncul kesalahan dalam membaca beberapa kata dalam al-Qur'an. Seperti kata          yang bisa dibaca فتبينوا /fatabayyanû/ atau فتنبثوا /fatanabbatsû/. Untuk menghilangakan kesalahan tersebut maka dibuatlah titik dan harakat. Orang pertama yang menuliskan titik dan harakat pada bahasa Arab adalah Abu al-Aswad ad-Duali –rahimahullâh-.
Selain memprakarsai penulisan titik dan harakat, Abu al-Aswad ad-Duali juga menjadi pioner dalam penyusunan ilmu Nahwu. Tetapi, Teori ilmu Nahwu baru dikembangkan secara komprehensif oleh Khalil bin Ahmad al-Farahidi. Khalil bin Ahmad al-Farahidi (100-175 H) dikenal sangat menguasai logika Aristoteles, dengan demikian, teori-teorinya sangat dipengaruhi oleh filsafat. Ia berusaha menguraikan fenomena-fenomena kebahasaan dengan perspektif filsafat, salah satunya adalah pemikiran kausalitas (sababiyyah). Dalam pandangan ini, segala sesuatu yang “ada” di muka bumi ini mengharuskan “pengada”. Begitu pula dengan fenomena perubahan akhir kata atau i’râb, mengharuskan ada sesuatu “yang menyebabkan” hal itu terjadi. Maka Khalil menamakan penyebab itu dengan ‘âmil (yang berbuat) (‘Alamah, 1993:37-38). Upaya yang dilakukan al-Farahidi diteruskan oleh muridnya yang bernama Sibawaih. Dia telah berhasil menyerap semua pemikiran Khalil dan mengembangkannya secara lebih luas dan mendalam dan menuangkannya dalam sebuat buku yang diberi judul al-Kitab (الكتاب) yang sangat dikagumi oleh masyarakat pemerhati nahwu pada masa itu, sehingga mereka menyebut buku al-Kitab sebagai: “Qur`annya nahwu”. Buku ini benar-benar mencakup semua persoalan nahwu secara menyeluruh, sehingga tidak ada satu masalah pun dalam nahwu yang tidak dibahas.

http://jainudin-betawi.blogspot.my/2010/11/sejarah-bahasa-arab.html

Wednesday, October 4, 2017

Eutanasia Menurut Agama dan Beberapa Kes Berkaitan

Dalam ajaran Gereja Katolik Roma
Lihat pula: Doktrin Katolik mengenai Sepuluh Perintah Allah § Bunuh diri, eutanasia
Sejak pertengahan abad ke-20, Gereja Katolik telah berjuang untuk memberikan pedoman sejelas mungkin mengenai penanganan terhadap mereka yang menderita sakit tak tersembuhkan, sehubungan dengan ajaran moral gereja mengenai eutanasia dan sistem penunjang hidup. Paus Pius XII, yang tak hanya menjadi saksi dan mengutuk program-program egenetika dan eutanasia Nazi, melainkan juga menjadi saksi atas dimulainya sistem-sistem modern penunjang hidup, adalah yang pertama menguraikan secara jelas masalah moral ini dan menetapkan pedoman. Pada tanggal 5 Mei tahun 1980 , Kongregasi Ajaran Iman telah menerbitkan Dekalarasi tentang eutanasia ("Declaratio de euthanasia") [19] yang menguraikan pedoman ini lebih lanjut, khususnya dengan semakin meningkatnya kompleksitas sistem-sistem penunjang hidup dan gencarnya promosi eutanasia sebagai sarana yang sah untuk mengakhiri hidup. Paus Yohanes Paulus II, yang prihatin dengan semakin meningkatnya praktik eutanasia, dalam ensiklik Injil Kehidupan (Evangelium Vitae) nomor 64 yang memperingatkan kita agar melawan "gejala yang paling mengkhawatirkan dari `budaya kematian' di mana jumlah orang-orang lanjut usia dan lemah yang meningkat dianggap sebagai beban yang mengganggu." Paus Yohanes Paulus II juga menegaskan bahwa eutanasia merupakan tindakan belas kasihan yang keliru, belas kasihan yang semu: "Belas kasihan yang sejati mendorong untuk ikut menanggung penderitaan sesama. Belas kasihan itu tidak membunuh orang, yang penderitaannya tidak dapat kita tanggung" (Evangelium Vitae, nomor 66)[20][21]

Dalam ajaran agama Hindu
Pandangan agama Hindu terhadap euthanasia adalah didasarkan pada ajaran tentang karma, moksa dan ahimsa.

Karma adalah merupakan suatu konsekwensi murni dari semua jenis kehendak dan maksud perbuatan, yang baik maupun yang buruk, lahir atau bathin dengan pikiran kata-kata atau tindakan. Sebagai akumulasi terus menerus dari "karma" yang buruk adalah menjadi penghalang "moksa" yaitu suatu ialah kebebasan dari siklus reinkarnasi yang menjadi suatu tujuan utama dari penganut ajaran Hindu.

Ahimsa adalah merupakan prinsip "anti kekerasan" atau pantang menyakiti siapapun juga.

Bunuh diri adalah suatu perbuatan yang terlarang di dalam ajaran Hindu dengan pemikiran bahwa perbuatan tersebut dapat menjadi suatu factor yang mengganggu pada saat reinkarnasi oleh karena menghasilkan "karma" buruk. Kehidupan manusia adalah merupakan suatu kesempatan yang sangat berharga untuk meraih tingkat yang lebih baik dalam kehidupan kembali.

Berdasarkan kepercayaan umat Hindu, apabila seseorang melakukan bunuh diri, maka rohnya tidak akan masuk neraka ataupun surga melainkan tetap berada didunia fana sebagai roh jahat dan berkelana tanpa tujuan hingga ia mencapai masa waktu di mana seharusnya ia menjalani kehidupan (Catatan : misalnya umurnya waktu bunuh diri 17 tahun dan seharusnya ia ditakdirkan hidup hingga 60 tahun maka 43 tahun itulah rohnya berkelana tanpa arah tujuan), setelah itu maka rohnya masuk ke neraka menerima hukuman lebih berat dan akhirnya ia akan kembali ke dunia dalam kehidupan kembali (reinkarnasi) untuk menyelesaikan "karma" nya terdahulu yang belum selesai dijalaninya kembali lagi dari awal.[22]

Dalam ajaran agama Buddha
Ajaran agama Buddha sangat menekankan kepada makna dari kehidupan di mana penghindaran untuk melakukan pembunuhan makhluk hidup adalah merupakan salah satu moral dalam ajaran Budha. Berdasarkan pada hal tersebut di atas maka nampak jelas bahwa euthanasia adalah sesuatu perbuatan yang tidak dapat dibenarkan dalam ajaran agama Budha. Selain daripada hal tersebut, ajaran Budha sangat menekankan pada "welas asih" ("karuna")

Mempercepat kematian seseorang secara tidak alamiah adalah merupakan pelanggaran terhadap perintah utama ajaran Budha yang dengan demikian dapat menjadi "karma" negatif kepada siapapun yang terlibat dalam pengambilan keputusan guna memusnahkan kehidupan seseorang tersebut.[23]

Dalam ajaran Islam
Islam mengakui hak seseorang untuk hidup dan mati, namun hak tersebut merupakan anugerah Allah kepada manusia. Hanya Allah yang dapat menentukan kapan seseorang lahir dan kapan ia mati (QS 22: 66; 2: 243). Oleh karena itu, bunuh diri diharamkan dalam hukum Islam meskipun tidak ada teks dalam Al Quran maupun Hadis yang secara eksplisit melarang bunuh diri. Kendati demikian, ada sebuah ayat yang menyiratkan hal tersebut, "Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS 2: 195), dan dalam ayat lain disebutkan, "Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri," (QS 4: 29), yang makna langsungnya adalah "Janganlah kamu saling berbunuhan." Dengan demikian, seorang Muslim (dokter) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pasien) disetarakan dengan membunuh dirinya sendiri.[24]

Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanasia), yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif.

Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981, dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya eutanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun juga .[25]

Eutanasia positif
Yang dimaksud taisir al-maut al-fa'al (eutanasia positif) ialah tindakan memudahkan kematian si sakit—karena kasih sayang—yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan instrumen (alat).

Memudahkan proses kematian secara aktif (eutanasia positif) adalah tidak diperkenankan oleh syara'. Sebab dalam tindakan ini seorang dokter melakukan suatu tindakan aktif dengan tujuan membunuh si sakit dan mempercepat kematiannya melalui pemberian obat secara overdosis dan ini termasuk pembunuhan yang haram hukumnya, bahkan termasuk dosa besar yang membinasakan.

Perbuatan demikian itu adalah termasuk dalam kategori pembunuhan meskipun yang mendorongnya itu rasa kasihan kepada si sakit dan untuk meringankan penderitaannya. Karena bagaimanapun si dokter tidaklah lebih pengasih dan penyayang daripada Yang Menciptakannya. Karena itu serahkanlah urusan tersebut kepada Allah Ta'ala, karena Dia-lah yang memberi kehidupan kepada manusia dan yang mencabutnya apabila telah tiba ajal yang telah ditetapkan-Nya.[26]

Eutanasia negatif
Eutanasia negatif disebut dengan taisir al-maut al-munfa'il. Pada eutanasia negatif tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit, tetapi ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan untuk memperpanjang hayatnya. Hal ini didasarkan pada keyakinan dokter bahwa pengobatan yang dilakukan itu tidak ada gunanya dan tidak memberikan harapan kepada si sakit, sesuai dengan sunnatullah (hukum Allah terhadap alam semesta) dan hukum sebab-akibat.

Di antara masalah yang sudah terkenal di kalangan ulama syara' ialah bahwa mengobati atau berobat dari penyakit tidak wajib hukumnya menurut jumhur fuqaha dan imam-imam mazhab. Bahkan menurut mereka, mengobati atau berobat ini hanya berkisar pada hukum mubah. Dalam hal ini hanya segolongan kecil yang mewajibkannya seperti yang dikatakan oleh sahabat-sahabat Imam Syafi'i dan Imam Ahmad sebagaimana dikemukakan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, dan sebagian ulama lagi menganggapnya mustahab (sunnah).[27]

Dalam ajaran Gereja Ortodoks
Pada ajaran Gereja Ortodoks, gereja senantiasa mendampingi orang-orang beriman sejak kelahiran hingga sepanjang perjalanan hidupnya hingga kematian dan alam baka dengan doa, upacara/ritual, sakramen, khotbah, pengajaran dan kasih, iman dan pengharapan. Seluruh kehidupan hingga kematian itu sendiri adalah merupakan suatu kesatuan dengan kehidupan gerejawi. Kematian itu adalah sesuatu yang buruk sebagai suatu simbol pertentangan dengan kehidupan yang diberikan Tuhan. Gereja Ortodoks memiliki pendirian yang sangat kuat terhadap prinsip pro-kehidupan dan oleh karenanya menentang anjuran eutanasia.[28]

Dalam ajaran agama Yahudi
Ajaran agama Yahudi melarang eutanasia dalam berbagai bentuk dan menggolongkannya kedalam "pembunuhan". Hidup seseorang bukanlah miliknya lagi melainkan milik dari Tuhan yang memberikannya kehidupan sebagai pemilik sesungguhnya dari kehidupan. Walaupun tujuannya mulia sekalipun, sebuah tindakan mercy killing ( pembunuhan berdasarkan belas kasihan), adalah merupakan suatu kejahatan berupa campur tangan terhadap kewenangan Tuhan.[29]

Dasar dari larangan ini dapat ditemukan pada Kitab Kejadian dalam alkitab Perjanjian Lama Kej 1:9 yang berbunyi :" Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia".[30] Pengarang buku : HaKtav v'haKaballah menjelaskan bahwa ayat ini adalah merujuk kepada larangan tindakan eutanasia.[31]

Dalam ajaran Protestan
Gereja Protestan terdiri dari berbagai denominasi yang mana memiliki pendekatan yang berbeda-beda dalam pandangannya terhadap eutanasia dan orang yang membantu pelaksanaan eutanasia.

Beberapa pandangan dari berbagai denominasi tersebut misalnya :[32]

Gereja Methodis (United Methodist church) dalam buku ajarannya menyatakan bahwa : " penggunaan teknologi kedokteran untuk memperpanjang kehidupan pasien terminal membutuhkan suatu keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan tentang hingga kapankah peralatan penyokong kehidupan tersebut benar-benar dapat mendukung kesempatan hidup pasien, dan kapankah batas akhir kesempatan hidup tersebut".
Gereja Lutheran di Amerika menggolongkan nutrisi buatan dan hidrasi sebagai suatu perawatan medis yang bukan merupakan suatu perawatan fundamental. Dalam kasus di mana perawatan medis tersebut menjadi sia-sia dan memberatkan, maka secara tanggung jawab moral dapat dihentikan atau dibatalkan dan membiarkan kematian terjadi.
Seorang kristiani percaya bahwa mereka berada dalam suatu posisi yang unik untuk melepaskan pemberian kehidupan dari Tuhan karena mereka percaya bahwa kematian tubuh adalah merupakan suatu awal perjalanan menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Lebih jauh lagi, pemimpin gereja Katolik dan Protestan mengakui bahwa apabila tindakan mengakhiri kehidupan ini dilegalisasi maka berarti suatu pemaaf untuk perbuatan dosa, juga dimasa depan merupakan suatu racun bagi dunia perawatan kesehatan, memusnahkan harapan mereka atas pengobatan.

Sejak awalnya, cara pandang yang dilakukan kaum kristiani dalam menanggapi masalah "bunuh diri" dan "pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) adalah dari sudut "kekudusan kehidupan" sebagai suatu pemberian Tuhan. Mengakhiri hidup dengan alasan apapun juga adalah bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian tersebut.

Beberapa kes menarik

Kes Hasan Kusuma - Indonesia:

Sebuah permohonan untuk melakukan eutanasia pada tanggal 22 Oktober 2004 telah diajukan oleh seorang suami bernama Hassan Kusuma karena tidak tega menyaksikan istrinya yang bernama Agian Isna Nauli, 33 tahun, tergolek koma selama 2 bulan dan di samping itu ketidakmampuan untuk menanggung beban biaya perawatan merupakan suatu alasan pula. Permohonan untuk melakukan eutanasia ini diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kasus ini merupakan salah satu contoh bentuk eutanasia yang di luar keinginan pasien. Permohonan ini akhirnya ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan setelah menjalani perawatan intensif maka kondisi terakhir pasien (7 Januari 2005) telah mengalami kemajuan dalam pemulihan kesehatannya.[33]

Kes seorang wanita New Jersey - Amerika Serikat :

Seorang perempuan berusia 21 tahun dari New Jersey, Amerika Serikat, pada tanggal 21 April 1975 dirawat di rumah sakit dengan menggunakan alat bantu pernapasan karena kehilangan kesadaran akibat pemakaian alkohol dan zat psikotropika secara berlebihan.Oleh karena tidak tega melihat penderitaan sang anak, maka orangtuanya meminta agar dokter menghentikan pemakaian alat bantu pernapasan tersebut. Kasus permohonan ini kemudian dibawa ke pengadilan, dan pada pengadilan tingkat pertama permohonan orangtua pasien ditolak, namun pada pengadilan banding permohonan dikabulkan sehingga alat bantu pun dilepaskan pada tanggal 31 Maret 1976. Pasca penghentian penggunaan alat bantu tersebut, pasien dapat bernapas spontan walaupun masih dalam keadaan koma. Dan baru sembilan tahun kemudian, tepatnya tanggal 12 Juni 1985, pasien tersebut meninggal akibat infeksi paru-paru (pneumonia).

Kes Terri Schiavo:

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Terri Schiavo

Terri Schiavo

Terri Schiavo (usia 41 tahun) meninggal dunia di negara bagian Florida, 13 hari setelah Mahkamah Agung Amerika memberi izin mencabut pipa makanan (feeding tube) yang selama ini memungkinkan pasien dalam koma ini masih dapat hidup. Komanya mulai pada tahun 1990 saat Terri jatuh di rumahnya dan ditemukan oleh suaminya, Michael Schiavo, dalam keadaan gagal jantung. Setelah ambulans tim medis langsung dipanggil, Terri dapat diresusitasi lagi, tetapi karena cukup lama ia tidak bernapas, ia mengalami kerusakan otak yang berat, akibat kekurangan oksigen. Menurut kalangan medis, gagal jantung itu disebabkan oleh ketidakseimbangan unsur potasium dalam tubuhnya. Oleh karena itu, dokternya kemudian dituduh malapraktik dan harus membayar ganti rugi cukup besar karena dinilai lalai dalam tidak menemukan kondisi yang membahayakan ini pada pasiennya.

Setelah Terri Schiavo selama 8 tahun berada dalam keadaan koma, maka pada bulan Mei 1998 suaminya yang bernama Michael Schiavo mengajukan permohonan ke pengadilan agar pipa alat bantu makanan pada istrinya bisa dicabut agar istrinya dapat meninggal dengan tenang, namun orang tua Terri Schiavo yaitu Robert dan Mary Schindler menyatakan keberatan dan menempuh langkah hukum guna menentang niat menantu mereka tersebut. Dua kali pipa makanan Terri dilepaskan dengan izin pengadilan, tetapi sesudah beberapa hari harus dipasang kembali atas perintah hakim yang lebih tinggi. Ketika akhirnya hakim memutuskan bahwa pipa makanan boleh dilepaskan, maka para pendukung keluarga Schindler melakukan upaya-upaya guna menggerakkan Senat Amerika Serikat agar membuat undang-undang yang memerintahkan pengadilan federal untuk meninjau kembali keputusan hakim tersebut. Undang-undang ini langsung didukung oleh Dewan Perwakilan Amerika Serikat dan ditandatangani oleh Presiden George Walker Bush. Tetapi, berdasarkan hukum di Amerika kekuasaan kehakiman adalah independen, yang pada akhirnya ternyata hakim federal membenarkan keputusan hakim terdahulu.

Kes "Doctor Death":

Dr. Jack Kevorkian dijuluki "Doctor Death", seperti dilaporkan Lori A. Roscoe [34]. Pada awal April 1998, di Pusat Medis Adven Glendale[35] , California diduga puluhan pasien telah "ditolong" oleh Kevorkian untuk mengakhiri hidup. Kevorkian berargumen apa yang dilakukannya semata demi "menolong" pasien-pasiennya. Namun, para penentangnya menyebut apa yang dilakukannya adalah pembunuhan.

Kes rumah sakit Boramae - Korea:

Pada tahun 2002, ada seorang pasien wanita berusia 68 tahun yang terdiagnosa menderita penyakit sirosis hati. Tiga bulan setelah dirawat, seorang dokter bermarga Park umur 30 tahun, telah mencabut alat bantu pernapasan (respirator) atas permintaan anak perempuan si pasien. Pada Desember 2002, anak lelaki almarhum tersebut meminta polisi untuk memeriksa kakak perempuannya beserta dua orang dokter atas tuduhan melakukan pembunuhan. Seorang dokter yang bernama dr. Park mengatakan bahwa si pasien sebelumnya telah meminta untuk tidak dipasangi alat bantu pernapasan tersebut. Satu minggu sebelum meninggalnya, si pasien amat menderita oleh penyakit sirosis hati yang telah mencapai stadium akhir, dan dokter mengatakan bahwa walaupun respirator tidak dicabutpun, kemungkinan hanya dapat bertahan hidup selama 24 jam saja.[36]

Kes BBC :

Seorang warga Swiss bunuh diri dibantu medis atau euthanasia. Disaksikan keluarganya, ia menenggak obat mematikan di satu klinik di Swiss. Proses menuju kematian itu, disiarkan oleh televisi BBC. Kontroversi pun sontak merebak. Nama pria itu adalah Peter Smedley berusia 71 tahun dan sedang sakit parah yang tak mungkin disembuhkan lagi. Pemilik hotel ini pun memutuskan untuk mengakhiri penderitaan itu dengan cara meminum obat mematikan. Niatnya itu bisa terlaksana karena di negaranya, Swiss, euthanasia tidak terlarang. Ia pun meminta dokter di satu klik bernama Dignitas memberikan obat mematikan, barbituates. Entah bagaimana dia memberikan izin kepada Sir Terry Pratchett, pembawa acara Terry Pratchett: Choosing To Die, untuk merekam momen terakhirnya saat meminum racun. Itu terjadi sebelum Natal tahun lalu. Dalam gambar yang ditayangkan di BBC, sang pasien, Smedley, didampingi dokter dari klinik dan istrinya Christine. Dalam hitungan detik, ia meninggal di kursinya. Segera setelah tayangan itu, debat panas muncul di Twitter, media sosial lainnya serta media cetak membuat BBC dijuluki 'pemandu sorak' euthanasia. Warga pun menulis pengaduannya pada Dirjen Mark Thompson dan Kepala BBC Lord Patten mengenai acara itu. Warga menganggap acara ini 'tak pantas'. Kelompok amal, politik dan agama bergabung menyatakan acara ini 'propaganda' euthanasia. Dalam gugatan, tertulis, "Menayangkan kematian pasien di acara demi hiburan, BBC harus punya alasan kuat". Baroness Campbell of Surbiton, Baroness Finlay of Llandaff, Lord Alton of Liverpool dan Lord Charlie of Berriew mengatakan, BBC menayangkan acara ini guna mendukung bunuh diri yang dibantu. Alhasil, hampir 900 warga membuat pengaduan resmi pada BBC atas program itu. Juru bicara BBC menambahkan, "Terkait acara ini, kami punya 82 apresiasi dan 162 pengaduan, total pengaduan pun menjadi 898". Regulator media Ofcom sendiri mengakui seperti dikutip Dailymail, BBC mendapat 'banyak' pengaduan. [37] [38]

Eutanasia yang SebEnARnya

Sejauh ini eutanasia diperkenankan yaitu dinegara Belanda, Belgia serta ditoleransi di negara bagian Oregon di Amerika, Kolombia[3] dan Swiss dan dibeberapa negara dinyatakan sebagai kejahatan seperti di Spanyol, Jerman dan Denmark [4]

Belanda
Pada tanggal 10 April 2001 Belanda menerbitkan undang-undang yang mengizinkan eutanasia. Undang-undang ini dinyatakan efektif berlaku sejak tanggal 1 April 2002 [5], yang menjadikan Belanda menjadi negara pertama di dunia yang melegalisasi praktik eutanasia. Pasien-pasien yang mengalami sakit menahun dan tak tersembuhkan, diberi hak untuk mengakhiri penderitaannya.

Tetapi perlu ditekankan, bahwa dalam Kitab Hukum Pidana Belanda secara formal euthanasia dan bunuh diri berbantuan masih dipertahankan sebagai perbuatan kriminal.

Sebuah karangan berjudul "The Slippery Slope of Dutch Euthanasia" dalam majalah Human Life International Special Report Nomor 67, November 1998, halaman 3 melaporkan bahwa sejak tahun 1994 setiap dokter di Belanda dimungkinkan melakukan eutanasia dan tidak akan dituntut di pengadilan asalkan mengikuti beberapa prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur tersebut adalah mengadakan konsultasi dengan rekan sejawat (tidak harus seorang spesialis) dan membuat laporan dengan menjawab sekitar 50 pertanyaan.

Sejak akhir tahun 1993, Belanda secara hukum mengatur kewajiban para dokter untuk melapor semua kasus eutanasia dan bunuh diri berbantuan. Instansi kehakiman selalu akan menilai betul tidaknya prosedurnya. Pada tahun 2002, sebuah konvensi yang berusia 20 tahun telah dikodifikasi oleh undang-undang belanda, di mana seorang dokter yang melakukan eutanasia pada suatu kasus tertentu tidak akan dihukum.

Australia
Negara bagian Australia, Northern Territory, menjadi tempat pertama di dunia dengan UU yang mengizinkan euthanasia dan bunuh diri berbantuan, meski reputasi ini tidak bertahan lama. Pada tahun 1995 Northern Territory menerima UU yang disebut "Right of the terminally ill bill" (UU tentang hak pasien terminal). Undang-undang baru ini beberapa kali dipraktikkan, tetapi bulan Maret 1997 ditiadakan oleh keputusan Senat Australia, sehingga harus ditarik kembali.

Belgia
Parlemen Belgia telah melegalisasi tindakan eutanasia pada akhir September 2002. Para pendukung eutanasia menyatakan bahwa ribuan tindakan eutanasia setiap tahunnya telah dilakukan sejak dilegalisasikannya tindakan eutanasia di negara ini, namun mereka juga mengkritik sulitnya prosedur pelaksanaan eutanasia ini sehingga timbul suatu kesan adaya upaya untuk menciptakan "birokrasi kematian".

Belgia kini menjadi negara ketiga yang melegalisasi eutanasia (setelah Belanda dan negara bagian Oregon di Amerika).

Senator Philippe Mahoux, dari partai sosialis yang merupakan salah satu penyusun rancangan undang-undang tersebut menyatakan bahwa seorang pasien yang menderita secara jasmani dan psikologis adalah merupakan orang yang memiliki hak penuh untuk memutuskan kelangsungan hidupnya dan penentuan saat-saat akhir hidupnya.[6]

Amerika
Eutanasia agresif dinyatakan ilegal di banyak negara bagian di Amerika. Saat ini satu-satunya negara bagian di Amerika yang hukumnya secara eksplisit mengizinkan pasien terminal ( pasien yang tidak mungkin lagi disembuhkan) mengakhiri hidupnya adalah negara bagian Oregon, yang pada tahun 1997 melegalisasikan kemungkinan dilakukannya eutanasia dengan memberlakukan UU tentang kematian yang pantas (Oregon Death with Dignity Act)[7]. Tetapi undang-undang ini hanya menyangkut bunuh diri berbantuan, bukan euthanasia. Syarat-syarat yang diwajibkan cukup ketat, di mana pasien terminal berusia 18 tahun ke atas boleh minta bantuan untuk bunuh diri, jika mereka diperkirakan akan meninggal dalam enam bulan dan keinginan ini harus diajukan sampai tiga kali pasien, di mana dua kali secara lisan (dengan tenggang waktu 15 hari di antaranya) dan sekali secara tertulis (dihadiri dua saksi di mana salah satu saksi tidak boleh memiliki hubungan keluarga dengan pasien). Dokter kedua harus mengkonfirmasikan diagnosis penyakit dan prognosis serta memastikan bahwa pasien dalam mengambil keputusan itu tidak berada dalam keadaan gangguan mental.Hukum juga mengatur secara tegas bahwa keputusan pasien untuk mengakhiri hidupnya tersebut tidak boleh berpengaruh terhadap asuransi yang dimilikinya baik asuransi kesehatan, jiwa maupun kecelakaan ataupun juga simpanan hari tuanya.

Belum jelas apakah undang-undang Oregon ini bisa dipertahankan pada masa depan, sebab dalam Senat AS pun ada usaha untuk meniadakan UU negara bagian ini. Mungkin saja nanti nasibnya sama dengan UU Northern Territory di Australia. Bulan Februari lalu sebuah studi terbit tentang pelaksanaan UU Oregon selama tahun 1999.[8][9]

Sebuah lembaga jajak pendapat terkenal yaitu Poling Gallup (Gallup Poll) menunjukkan bahwa 60% orang Amerika mendukung dilakukannya eutanasia [10]

Indonesia
Berdasarkan hukum di Indonesia maka eutanasia adalah sesuatu perbuatan yang melawan hukum, hal ini dapat dilihat pada peraturan perundang-undangan yang ada yaitu pada Pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa "Barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun". Juga demikian halnya nampak pada pengaturan pasal-pasal 338, 340, 345, dan 359 KUHP yang juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur delik dalam perbuatan eutanasia. Dengan demikian, secara formal hukum yang berlaku di negara kita memang tidak mengizinkan tindakan eutanasia oleh siapa pun.

Ketua umum pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Farid Anfasal Moeloek dalam suatu pernyataannya yang dimuat oleh majalah Tempo Selasa 5 Oktober 2004 [11] menyatakan bahwa : Eutanasia atau "pembunuhan tanpa penderitaan" hingga saat ini belum dapat diterima dalam nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. "Euthanasia hingga saat ini tidak sesuai dengan etika yang dianut oleh bangsa dan melanggar hukum positif yang masih berlaku yakni KUHP.

Swiss
Di Swiss, obat yang mematikan dapat diberikan baik kepada warga negara Swiss ataupun orang asing apabila yang bersangkutan memintanya sendiri. Secara umum, pasal 115 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana Swiss yang ditulis pada tahun 1937 dan dipergunakan sejak tahun 1942, yang pada intinya menyatakan bahwa "membantu suatu pelaksanaan bunuh diri adalah merupakan suatu perbuatan melawan hukum apabila motivasinya semata untuk kepentingan diri sendiri."

Pasal 115 tersebut hanyalah menginterpretasikan suatu izin untuk melakukan pengelompokan terhadap obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengakhiri kehidupan seseorang.

Inggris
Pada tanggal 5 November 2006, Kolese Kebidanan dan Kandungan Britania Raya (Britain's Royal College of Obstetricians and Gynaecologists) mengajukan sebuah proposal kepada Dewan Bioetik Nuffield (Nuffield Council on Bioethics) agar dipertimbangkannya izin untuk melakukan eutanasia terhadap bayi-bayi yang lahir cacat (disabled newborns). Proposal tersebut bukanlah ditujukan untuk melegalisasi eutanasia di Inggris melainkan semata guna memohon dipertimbangkannya secara saksama dari sisi faktor "kemungkinan hidup si bayi" sebagai suatu legitimasi praktik kedokteran.

Namun hingga saat ini eutanasia masih merupakan suatu tindakan melawan hukum di kerajaan Inggris demikian juga di Eropa (selain daripada Belanda).

Demikian pula kebijakan resmi dari Asosiasi Kedokteran Inggris (British Medical Association-BMA) yang secara tegas menentang eutanasia dalam bentuk apapun juga.[12]

Jepang
Jepang tidak memiliki suatu aturan hukum yang mengatur tentang eutanasia demikian pula Pengadilan Tertinggi Jepang (supreme court of Japan) tidak pernah mengatur mengenai eutanasia tersebut.

Ada 2 kasus eutanasia yang pernah terjadi di Jepang yaitu di Nagoya pada tahun 1962 yang dapat dikategorikan sebagai "eutanasia pasif" (消極的安楽死, shōkyokuteki anrakushi)

Kasus yang satunya lagi terjadi setelah peristiwa insiden di Tokai university pada tahun 1995[13] yang dikategorikan sebagai "eutanasia aktif " (積極的安楽死, sekkyokuteki anrakushi)

Keputusan hakim dalam kedua kasus tersebut telah membentuk suatu kerangka hukum dan suatu alasan pembenar di mana eutanasia secara aktif dan pasif boleh dilakukan secara legal. Meskipun demikian eutanasia yang dilakukan selain pada kedua kasus tersebut adalah tetap dinyatakan melawan hukum, di mana dokter yang melakukannya akan dianggap bersalah oleh karena merampas kehidupan pasiennya. Oleh karena keputusan pengadilan ini masih diajukan banding ke tingkat federal maka keputusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum sebagai sebuah yurisprudensi, namun meskipun demikian saat ini Jepang memiliki suatu kerangka hukum sementara guna melaksanakan eutanasia.

Republik Ceko
Di Republik Ceko eutanisia dinyatakan sebagai suatu tindakan pembunuhan berdasarkan peraturan setelah pasal mengenai eutanasia dikeluarkan dari rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Sebelumnya pada rancangan tersebut, Perdana Menteri Jiri Pospíšil bermaksud untuk memasukkan eutanasia dalam rancangan KUHP tersebut sebagai suatu kejahatan dengan ancaman pidana selama 6 tahun penjara, namun Dewan Perwakilan Konstitusional dan komite hukum negara tersebut merekomendasikan agar pasal kontroversial tersebut dihapus dari rancangan tersebut.[14]

India
Di India eutanasia adalah suatu perbuatan melawan hukum. Aturan mengenai larangan eutanasia terhadap dokter secara tegas dinyatakan dalam bab pertama pasal 300 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana India (Indian penal code-IPC) tahun 1860. Namun berdasarkan aturan tersebut dokter yang melakukan euthanasia hanya dinyatakan bersalah atas kelalaian yang mengakibatkan kematian dan bukannya pembunuhan yang hukumannya didasarkan pada ketentuan pasal 304 IPC, namun ini hanyalah diberlakukan terhadap kasus eutanasia sukarela di mana sipasien sendirilah yang menginginkan kematian di mana si dokter hanyalah membantu pelaksanaan eutanasia tersebut (bantuan eutanasia). Pada kasus eutanasia secara tidak sukarela (atas keinginan orang lain) ataupun eutanasia di luar kemauan pasien akan dikenakan hukuman berdasarkan pasal 92 IPC.[15]

China
Di China, eutanasia saat ini tidak diperkenankan secara hukum. Eutansia diketahui terjadi pertama kalinya pada tahun 1986, di mana seorang yang bernama "Wang Mingcheng" meminta seorang dokter untuk melakukan eutanasia terhadap ibunya yang sakit. Akhirnya polisi menangkapnya juga si dokter yang melaksanakan permintaannya, namun 6 tahun kemudian Pengadilan tertinggi rakyat (Supreme People's Court) menyatakan mereka tidak bersalah. Pada tahun 2003, Wang Mingcheng menderita penyakit kanker perut yang tidak ada kemungkinan untuk disembuhkan lagi dan ia meminta untuk dilakukannya eutanasia atas dirinya namun ditolak oleh rumah sakit yang merawatnya. Akhirnya ia meninggal dunia dalam kesakitan.[16]

Afrika Selatan
Di Afrika Selatan belum ada suatu aturan hukum yang secara tegas mengatur tentang eutanasia sehingga sangat memungkinkan bagi para pelaku eutanasia untuk berkelit dari jerat hukum yang ada.[17]

Korea
Belum ada suatu aturan hukum yang tegas yang mengatur tentang eutanasia di Korea, namun telah ada sebuah preseden hukum (yurisprudensi)yang di Korea dikenal dengan "Kasus rumah sakit Boramae" di mana dua orang dokter yang didakwa mengizinkan dihentikannya penanganan medis pada seorang pasien yang menderita sirosis hati (liver cirrhosis) atas desakan keluarganya. Polisi kemudian menyerahkan berkas perkara tersebut kepada jaksa penuntut dengan diberi catatan bahwa dokter tersebut seharusnya dinayatakan tidak bersalah. Namun kasus ini tidak menunjukkan relevansi yang nyata dengan mercy killing dalam arti kata eutanasia aktif.

Pada akhirnya pengadilan memutuskan bahwa " pada kasus tertentu dari penghentian penanganan medis (hospital treatment) termasuk tindakan eutanasia pasif, dapat diperkenankan apabila pasien terminal meminta penghentian dari perawatan medis terhadap dirinya.[18]

Thursday, September 7, 2017

Sepercik Cahaya

Sami Besar batu cave Masuk Islam



Saya paparkan satu kisah yang dikisahkan oleh seorang penulis yang menggelarkan dirinya staf sarjan sebatang kara. Ceritanya adalah seperti berikut;

Assalamualaikum.

Minggu lepas surau ditempat saya didatangi oleh seorang bekas sami dari Batu Cave yang telah memeluk Islam. Beliau mempunyai nama baru yang telah diberikan oleh TGNA. Saya rasa tak sesuai nak bagitahu nama dia di sini.

Beliau sami yang kedudukan agak tinggi di Batu Cave. Tugas utama beliau di Batu Cave adalah membakar mayat di mana beliau adalah ketua. Upacara membakar mayat beliau lakukan adalah dengan menghadap kiblat kita ummat Islam. Maknanya mayat tersebut adalah dalam keadaan berdiri. Ada beberapa perkara yang membuatkan beliau meninggalkan agama beliau tapi antara yang sebab paling utama adalah semasa di Batu Cave beliau enggan menyembah seorang melayu yang bernama Ayah Pin.

Serba sedikit beliau menerangkan tentang pengalaman beliau semasa di Batu Cave. Kuil Batu cave adalah antara kuil yang paling utama di dunia untuk penganut hindu. Beliau menerangkan Batu Cave seumpama Universiti utama mengeluarkan PhD untuk bakal-bakal sami. Bolehlah saya umpamakan seperti Al-Azhar untuk penganut Hindu. Setahu saya sendiri tempat sambutan Thaipusam terbesar di dunia adalah di Batu Cave. Beliau jugak menyatakan bahawa Tokong Hindu paling besar di dunia adalah di Batu Cave. Tempat pembakaran mayat paling besar di dunia adalah terletak di satu tempat di Selangor (saya sudah lupa nama tempat tu).

Pada bulan Ramadhan beliau akan menutup semua Tokong yang ada kerana pada bulan Tersebut penganut Hindu tidak menyembah Tokong kerana pada bulan tersebut Tokong-tokong semacam tiada kuasa. Betullah logiknya kerana pada Bulan tersebut semua setan dan iblis diikat dan dirantai. Jadi tidaklah setan dan iblis nihh menghuni Tokong-tokong tadi untuk menyesatkan manusia.

Beliau juga memberikan beberapa petua. Jangan bersalam dengan penganut hindu di waktu selepas Subuh kerana waktu itu mereka baru bersembahyang dan mencalit sedikit abu mayat ke muka mereka dan mereka tidak membasuh tangan mereka. Juga jangan makan di rumah penganut hindu ini kerana beliau mengatakan dalam setiap rumah hindu ada Tokong dan masakan mereka akan dirasai dahulu oleh setan dan iblis nihhh. Itu sajalaaa yang sempat diperkatakan.

Sekarang beliau menetap di Kelantan dan sedang bekerja dan mendalami Islam di sana. Beliau sudah 3 tahun memeluk Islam.

Sepercik Cahaya

30 tahun kaji agama, sami peluk Islam
AMRAN ALI 7 APRIL 2015


Majlis pengislaman sami berusia 66 tahun disempurnakan Abdul Rahim di Masjid Cina, Melaka,
A- A+ (Ubah saiz teks)
MELAKA - Hampir 30 tahun mengkaji setiap agama di dunia ini, akhirnya seorang sami Buddha berusia 66 tahun mengambil keputusan memeluk Islam.

Pengalaman menjadi sami selama 28 tahun di Taiwan mendorong lelaki yang enggan identitinya itu didedahkan, mencari kebenaran dan akhirnya mengakui Islam merupakan satu agama yang indah dan sempurna.

Semalam, lelaki terbabit mengucap dua kalimah syahadah dalam satu majlis ringkas di Masjid Cina, di sini.

Presiden Persatuan Cina Islam Malaysia Cawangan Melaka (Macma), Lim Jooi Soon berkata, sepanjang menjadi sami di Taiwan, lelaki berkenaan banyak menghabiskan masa mengkaji setiap agama di dunia ini.

"Semasa menjadi sami, dia begitu banyak mengkaji tentang banyak agama di dunia ini. Dalam pengkajian itu, dia cuma menemui Islam sebagai sebuah agama paling lengkap dan meliputi segala aspek setiap kali berhujah.

“Dia banyak melihat agama Islam ini semakin berkembang, tetapi dia tidak tahu puncanya," katanya.

Menurutnya, lelaki yang berasal dari Johor itu datang ke negeri ini sejak tiga minggu lalu.

"Akhirnya, dia berjumpa saya dan saya telah menerangkan dengan menggabungkan bagaimana logik, sains dan hujah dapat dikaitkan dengan pencipta alam ini menyebabkan dia tertarik untuk memeluk Islam,” katanya selepas majlis itu semalam yang
disempurnakan penaung Macma, Tan Sri Abdul Rahim Tamby Chik.

Hadir sama, Timbalan Pengerusi Majlis Agama Islam Melaka (Maim), Datuk Yaakub Md Amin dan Mufti negeri, Datuk Dr Mohadis Yasin.

Jooi Soon berkata, kini tugas Macma adalah untuk membimbingnya agar dapat mengetahui ajaran Islam secara mendalam.

“Kerja kami baru hendak bermula untuk mengajarnya dan kami hanya boleh mengajar dalam bahasa Mandarin kerana dia tidak fasih bahasa Melayu dan Inggeris. Ia mungkin menuntut sedikit kesabaran,” katanya.

Sementara itu, pada majlis sama semalam turut menyaksikan pengislaman seorang lelaki kurang upaya (OKU) berusia 31 tahun.

Menurut Jooi Soon, lelaki dikenali sebagai Teo itu dikatakan ditemui ketika hidup di dalam gelandangan dan hanya mengharapkan belas ihsan orang ramai untuk sesuap nasi.

“Dia mengalami kecacatan anggota kaki dan tangan. Rakan-rakan kami menemuinya sehingga akhirnya kami dakwah dia untuk tertarik terhadap Islam.

“Paling mencabar lagi bagi kami, OKU ini juga tidak berpelajaran dan tidak tahu membaca,” katanya.

Sepercik Cahaya

Bebola api cetus hijrah Kumaran
Oleh Norhafzan Jaafar
hafzan@bh.com.my





Share




TIDAK pernah terlintas di fikiran Kumaran Nagapa, 37, kunjungannya ke Bestari Jaya, Batang Berjuntai, Selangor, tiga tahun lalu, bagi melanjutkan pengajian di Universiti Selangor (Unisel) menjadi satu hijrah besar dan membuka lembaran baharu yang mengubah seluruh hidupnya.

Beliau yang sebelum ini penganut Hindu, mengakui sejak memeluk Islam dua tahun lalu, beliau terus yakin dengan pegangan hidup yang dipilihnya biarpun melalui pelbagai cabaran dan getir, termasuk kritikan juga cemuhan keluarga serta masyarakat sekeliling.

Malah, anak jati Kuala Lumpur ini menganggap semua dugaan yang dilaluinya menjadi pembakar semangat kepada beliau dan isterinya, Subashini Mariappan, 25, sehingga memberi idea kepada pasangan mualaf ini untuk menubuhkan sebuah pusat masyarakat bertujuan mengurangkan salah faham berkaitan agama dan kaum dalam kalangan masyarakat setempat.

Berkongsi pengalamannya, Kumaran yang lebih dikenali sebagai Kuma dalam kalangan penduduk, di Kampung Jawa, Bestari Jaya, mengakui pengetahuannya mengenai Islam sebelum ini amat cetek walaupun sering bergaul dengan rakan beragama Islam.

"Malah, saya tidak pernah kisah untuk mengambil tahu mengenai Islam sehinggalah pada suatu malam saya menyaksikan satu fenomena bebola api di langit. Ia menyebabkan saya mula berfikir mengenai sebab kewujudan dunia ini.

"Tidak tahu ke mana nak merujuk, saya menemui pensyarah di Unisel ketika itu, Muhammad Salleh, yang kemudian memberikan sebuah buku mengenai ilmu falak untuk saya baca.


KUMARAN Nagapa. - Foto Muhammad Sulaiman
"Ternyata banyak yang saya tidak tahu mengenai Islam, termasuk kaitannya dengan sains sehinggalah saya mula mengetahui mengenai konsep fardu kifayah dalam Islam," katanya.

Kumaran berkata, peristiwa menyaksikan kekuasaan dan kebesaran Allah itu tidak hanya berakhir di situ. Sekali lagi beliau menyaksikan perkara yang sama ketika sedang bermonolog mengenai kewujudan Tuhan.

"Ternyata pengalaman kedua menyaksikan fenomena kekuasaan Allah itu menguatkan lagi jawapan yang saya cari selama ini. Ini membuatkan saya yakin dengan Islam.

"Ia tak berhenti di situ. Sekali lagi, buat kali ketiga saya dapat melihat bebola api ketika bersama rakan. Ia mengukuhkan lagi keyakinan saya terhadap kekuasaan Allah sehingga saya memilih untuk memeluk Islam," katanya yang mengucap dua kalimah syahadah di Pejabat Agama Islam Daerah Kuala Selangor, pada Ogos tahun 2013

Mengimbau pada tempoh awal pengislaman beliau, Kumaran berkata, sama seperti kebanyakan kisah mualaf lain, hasratnya menukar agama mendapat tentangan keluarga.

"Malah, ibu bapa mempertikaikan tindakan saya yang dilihat seperti cuba mengajar mereka mengenai Islam sedangkan saya ketika itu masih baharu mengenali Islam.

"Perkara itu bagaimanapun menjadi semangat untuk mempelajari Islam dengan lebih mendalam supaya saya boleh memberikan kefahaman sebenar mengenai Islam kepada mereka," katanya yang memilih mengekalkan nama asalnya selepas memeluk Islam.


KUMARAN dan Subashini ketika menyertai kursus di Morib, awal tahun ini.
Kumaran berkata, kemarahan ibu bapanya bertambah selepas beliau memutuskan untuk berkahwin dengan Subashini, yang memiliki bayi perempuan, Jyoshini, yang ketika itu berusia enam bulan.

"Saya mengenalinya selepas membantu dia yang ketika itu sarat mengandung sehinggalah melahirkan bayinya di Hospital Sungai Buloh.

"Kerana mengandung tanpa suami, Subashini dan keluarganya dibenci oleh penduduk kampung sehingga tiada yang mahu membantu mereka," katanya.

Kumaran yang bekerja sebagai guru di sebuah pusat tuisyen di Bestari Jaya, berkata Subahsini memeluk Islam pada Disember tahun lalu, beberapa bulan sebelum beliau memutuskan untuk mengahwini wanita berkenaan pada April lalu.

Beliau berkata, bukan simpati yang menyebabkan beliau memilih mengahwini isterinya itu tetapi rasa tanggungjawab apabila memikirkan nasib Jyoshini, yang mungkin akan terabai dan tidak mempunyai masa depan, jika tiada yang membela ibu dan anak berkenaan.

Kumaran berkata, walaupun Bestari Jaya adalah sebuah pekan kecil yang jauh terpencil, penduduk di situ berhadapan pelbagai masalah sosial yang teruk dan membimbangkan, termasuk penyalahgunaan dadah, keruntuhan moral dan pembabitan dalam kumpulan kongsi gelap.


SUBASHINI (kanan) membantu murid menyiapkan kerja sekolah. - Foto Muhammad Sulaiman
Menyedari permasalahan itu, Kumaran mengambil inisiatif menubuhkan sebuah pusat khidmat masyarakat yang dinamakan sebagai 'Grassroots', yang bukan sahaja berperanan membantu masyarakat setempat dari segi pendidikan dan sosial, malah mengurangkan salah faham mengenai agama dalam kalangan mereka.

"Tujuan kami untuk menyampaikan berita baik mengenai Islam kepada semua lapisan masyarakat menerusi kebajikan dan akhlak," katanya yang memperuntukkan perbelanjaan sendiri bagi menyewa sebuah rumah untuk Grassroots.

Katanya, Grassroot menyediakan kelas tutorial percuma kepada kanak-kanak setempat dengan beliau dan isteri menjadi tenaga pengajar.

"Sambutan kelas tutorial ini di luar dugaan apabila ramai yang menghantar anak mereka belajar dengan kami walaupun pada awal penubuhannya ia mendapat tentangan penduduk kampung.

"Sekarang, kelas yang diadakan tiga kali seminggu bermula jam 6 petang hingga 7.30 malam ini sentiasa penuh, malah ada masanya mencecah sehingga 45 pelajar pada satu masa," katanya.

Selain itu, Kumaran juga sentiasa bersedia menghantar penduduk kampung ke hospital atau pejabat kerajaan jika kecemasan, selain membantu membeli barangan runcit kepada penduduk miskin.

"Ia bagi menunjukkan kepada mereka, Islam adalah agama yang mengeratkan silaturahim dan bukan menjadikan kita saling bermusuhan.


KUMARAN dan Subashini diraikan sempena pernikahan mereka April lalu. - Foto Muhammad Sulaiman
"Kebanyakan konflik dalam masyarakat negara ini terutama membabitkan agama adalah berpunca daripada salah faham. Ia boleh diatasi dengan mudah jika masyarakat Islam sendiri mengambil langkah pertama dengan menunjukkan rasa kasih dan sayang kepada masyarakat yang belum mengenali Islam," katanya.

Kumaran berkata, semua kebajikan yang dilakukannya itu tidak akan terlaksana tanpa bantuan dan sokongan daripada pelbagai pihak, termasuk Majlis Agama Islam Selangor (MAIS) menerusi Pejabat Agama Islam Daerah Kuala Selangor, IKRAM Kuala Selangor dan Hidayah Centre Foundation, yang sentiasa memberi sumbangan untuk menjayakan program kendaliannya.

Beliau turut mengucapkan terima kasih kepada qariah Masjid Al-awwabin, Bestari Jaya; Masjid India Bestari Jaya dan Masjid Unisel Bestari Jaya, yang disifatkan sebagai tulang belakang bagi setiap aktiviti yang dijalankannya.

Sementara itu, Subahsini menjelaskan, beliau memeluk Islam atas kerelaannya sendiri kerana berasakan Islam agama yang amat menghargai dan memberi penghormatan kepada wanita.

Katanya, beliau tertarik dengan kesucian Islam, yang meletakkan wanita di tempat tinggi, selain sentiasa memastikan aib golongan hawa terpelihara.

Ditanya mengenai kesanggupannya untuk berkongsi kisah silam dengan pembaca menerusi pendedahan ini, Subashini berkata, beliau tidak melihat perkara itu sebagai membuka pekung atau aib sendiri.

"Tujuan saya adalah untuk memperlihatkan bagaimana sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang Allah kepada setiap hamba-Nya.


SEBAHAGIAN murid berjalan kaki untuk hadir ke kelas tutorial yang disediakan Kumaran dan isterinya di Kampung Jawa, Bestari Jaya. - Foto Muhammad Sulaiman
"Saya amat berharap sejarah hitam saya boleh menjadi iktibar kepada pembaca supaya masyarakat mengambil tanggungjawab untuk membantu dan bukan hanya pandai menghukum mereka yang menjadi mangsa gejala sosial seperti yang pernah saya alami," katanya.

Malah, Subashini berkata, beliau bersama suaminya kini berusaha untuk mendidik dan membimbing kanak-kanak di kampungnya supaya tidak terjerumus dalam gejala negatif.

"Dulu, saya dihina penduduk kampung kerana kisah silam berkenaan, selain abang saya pula dipenjara kerana terbabit dengan penyalahgunaan dadah.

"Tetapi kini dengan cara hidup saya selepas memeluk Islam, mereka sudah dapat menerima saya, malah tidak kisah menghantar anak mereka ke pusat bimbingan kami.

"Persepsi masyarakat boleh berubah dan saya harapkan mereka yang dilanda ujian untuk tidak berputus asa, selain mendoakan mereka diberikan nikmat oleh Allah seperti yang saya peroleh," katanya yang turut mengucapkan selamat menyambut Maal Hijrah dan Hari Assyura kepada seluruh umat Islam.

Sepercik Cahaya

Dari Seorang Mubaligh Hindu kepada Pendakwah Islam

Lelaki India berbadan tegap itu menghempaskan dirinya ke atas sofa di ruang tamu rumahnya di Petaling Jaya. Hari ini, dia rasa terlalu letih. Pelanggan yang datang ke bank tempatnya bekerja hari ini, luar biasa ramainya. 

Dia cuma sempat berhenti rehat sewaktu makan tengah hari sahaja. Selepas itu, dia kembali sibuk melayan pelanggan sehinggalah habis waktu pejabat.

Lelaki itu menghidupkan TV dan kebetulan ketika itu, rancangan Forum Perdana Ehwal Islam sedang berlangsung. Salah seorang ahli panelnya ialah ulama terkenal, Dato’ Dr. Haron Din.

Biarpun dia bukan seorang Muslim, rancangan Forum Perdana Ehwal Islam bukanlah asing baginya. Selalu juga dia menonton rancangan tersebut. 

Malah, dia juga tahu sedikit sebanyak tentang ajaran Islam melalui rancangan tersebut. Lagipun, dia suka melihat kepetahan ahli panel itu memberi ceramah dalam bahasa Melayu, secara tidak langsung, dia boleh belajar bertutur dalam bahasa Melayu dengan lebih baik.

Sedang asyik mengikuti perbincang-an itu, tiba-tiba, lelaki tersebut tersentak apabila mendengar Haron Din mengatakan: “Bandingan segala kebaikan amal dan usaha orang-orang yang kufur ingkar terhadap Tuhannya ialah seperti abu yang diterbangkan angin pada hari ribut yang kencang, mereka tidak memperoleh sesuatu faedah pun daripada apa yang mereka telah usahakan itu. Amalan itu menjadi sia-sia akibat mereka sebenarnya berada dalam kesesatan yang jauh daripada kebenaran.”

Mendengar kata-kata Haron Din, darah lelaki India itu menyirap. Perasaan marah menyelinap masuk ke dalam hatinya. Mana boleh! Itu tidak adil! Takkan Tuhan hanya menerima kebaikan orang Islam sahaja? Bagaimana dengan kebaikan yang dilakukan oleh orang bukan Islam?

Bahkan, sepanjang hidupnya, dia melihat banyak kebaikan yang dilakukan oleh orang bukan Islam, dan ada kalanya, melebihi daripada Kebaikan yang pernah dilakukan oleh orang Islam itu sendiri. 

Apakah segala kebaikan itu tidak diterima? Dia mula menganggap, ajaran Islam mengamalkan sikap kasta. Jika begitu ajaran Islam, bermakna ia double standard.

Rasa tidak puas hati terus menyelubungi fikiran lelaki tersebut. Lelaki India itu tekad untuk berjumpa dengan Haron Din. Dia ingin berdebat dengan ulama tersebut. 

Pada fikirannya, mana boleh seorang ulama mengeluarkan kenyataan yang tidak adil seperti itu, dan boleh menyentuh perasaan orang bukan Islam di negara ini seperti dirinya. Apatah lagi ia dilakukan secara terbuka di kaca TV.

Lelaki itu tahu, Haron Din bukanlah calang-calang orang, tetapi dia tidak peduli. Dia tetap mahu berjumpa dengan ulama tersebut dan mesti mencari jalan bagaimana untuk bertemu dengannya. Setelah beberapa bulan memendam niat untuk bertemu Haron Din akhirnya hasrat itu tercapai. 

Melalui seorang pelanggan yang dikenali ketika berurusan di bank tempatnya bekerja, lelaki itu dibawa bertemu dengan Haron Din di sebuah rumah seorang ahli perniagaan di Petaling Jaya. Haron Din mengadakan usrah di rumah ahli perniagaan tersebut pada hari Khamis malam Jumaat, seminggu sekali.

Ketika sampai di rumah ahli perniagaan tersebut, kuliah baru saja bermula. Di hadapan lebih 20 orang jemaah, kelihatan Haron Din duduk bersila sambil memegang sebuah kitab. Kebetulan pada malam itu, Haron Din mengajar tentang bab syirik. Bila ternampak muka Haron Din, hatinya menjadi panas.

Lelaki itu membulatkan tekad, selepas tamat kuliah, dia mahu berjumpa dengan Haron Din. Dia mahu mengajak Haron Din berdebat. Lelaki itu memang betul-betul tidak berpuas hati dengan kenyataan Haron Din di dalam Forum Perdana. Ia masih terngiang-ngiang di telinganya biarpun sudah beberapa bulan berlalu.

Namun, tidak disangka-sangka, segala yang dirancangnya tidak menjadi. Perasaan marah dan bengang yang bersarang dalam dirinya selama beberapa bulan itu mula surut apabila dia duduk mendengar kuliah yang disampaikan oleh ulama tersebut.

Setelah tamat kuliah yang diberikan Haron Din, lebih kurang dua jam selepas itu, semangatnya yang tadi berkobar-kobar mahu berdebat dengan ulama tersebut, kian kendur. 

Rupa-rupanya, dalam diam, dia mengakui, cara penyampaian, serta kupasan Haron Din yang begitu terperinci dalam bab-bab syirik, membuatkan dia rasa amat terpegun.

Sebelum ini, lelaki India itu tidak pernah mendengar penjelasan mengenai Islam dan ketuhanan seperti yang didengarnya pada malam itu. Biarpun hati lelaki berkenaan sudah mula mahu akur pada kebenaran Islam, namun egonya masih menebal. 

Lelaki ini memperingatkan dirinya, kedatangannya pada malam itu bukan untuk terpengaruh dengan kata-kata Haron Din, tetapi untuk mengajak ulama itu berdebat dengannya.

Akhirnya dia memutuskan untuk menangguhkan hasrat berdebat dengan Haron Din. Bukan tidak berani, tetapi sebenarnya pada malam itu segala persepsi buruknya terhadap Haron Din dan Islam telah mula berubah.

Pun demikian, lelaki itu tidak mahu mengalah dengan perasaannya. Ego yang ada dalam dirinya mengaburi kewarasan akalnya. Misinya berjumpa dengan Haron Din ialah untuk menyatakan apa yang dikatakan oleh ulama tersebut dalam Forum Perdana adalah tidak adil. Tidak lebih daripada itu.

Dan yang paling penting, tujuan dia bertemu ulama tersebut bukanlah untuk mengakui kebenaran Islam. Lelaki itu membuat perancangan sendiri. Dia akan terus mengikuti kuliah Haron Din di situ, agar dia lebih faham tentang Islam dan senang nanti untuk dia berhujah dengan ulama tersebut kelak.

Selepas itu, pada setiap malam Jumaat, lelaki berkenaan menghadiri kuliah Haron Din. Kali ini dia pergi seorang diri. Tetapi ‘masalahnya’ semakin lama mengikuti usrah Haron Din, semakin jelas dilihatnya kebenaran Islam.

Lama-kelamaan, tujuan asal lelaki ini untuk berdebat dengan Haron Din dan mengatakan bahawa Islam agama yang double standard, bertukar menjadi sebaliknya. 

Setiap kali dia mengikuti usrah Haron Din, semakin hampir hatinya pada Islam. Islam itu dilihatnya tulus, lurus tanpa simpang-siur.

Niat asalnya untuk berdebat dengan Haron Din akhirnya terpadam begitu sahaja. Sebaliknya, hatinya menjadi semakin lembut dan lelaki India itu bertambah berminat untuk mengetahui tentang ajaran Islam dengan lebih mendalam.

Suatu hari ketika mengikuti usrah Haron Din di rumah ahli perniagaan tersebut, lelaki India itu mengambil peluang bertanyakan bermacam-macam soalan tentang Islam. 

Dia bertanya, mengapa perlu meninggalkan agamanya dan memeluk Islam? Bukankah semua agama itu sama. Bukankah Islam itu juga sama seperti agama lain, menyuruh membuat kebalkan dan meninggalkan kejahatan?

Dan yang paling penting, dia mahu tahu, kenapa Haron Din mengatakan hanya amalan orang Islam sahaja yang diterima Allah, dan amalan orang bukan Islam tidak diterima-Nya seperti yang disebut di dalam Forum Perdana Ehwal Islam tidak berapa lama dulu.

Haron Din tersenyum dan secara berkias beliau menjawab; ” Untuk memudahkan saudara memahaminya, biar saya berikan contoh begini: kita adalah seorang hamba dan tuan kita memberikan kita sebidang tanah, cangkul, benih, baja dan segala kelengkapan yang lain untuk kita mengusahakan tanah tersebut.

“Tuan kita suruh kita usahakan tanah itu tetapi kita tidak berbuat seperti mana yang disuruh, sebaliknya kita mengusahakan tanah orang lain. Kemudian bila tiba di hujung bulan, kita datang kepada tuan kita untuk meminta upah. Saudara rasa, adakah tuan kita akan bagi upah sedangkan kita tidak lakukan apa yang disuruh, sebaliknya kita melakukan kerja untuk orang lain?

“Begitu jugalah simboliknya di dalam Islam. Jika kita melakukan kebajikan dan kebaikan, bukan kerana Allah, tetapi kerana sesuatu yang lain, contohnya kerana manusia, pangkat atau harta, apakah di akhirat nanti, Allah akan memberi balasan di atas amal perbuatan kita sedangkan semua amalan yang kita lakukan bukan untuk Dia?”

Ternyata segala jawapan dan hujah yang diberikan oleh Haron Din atas pertanyaannya itu, membuatkan dia mati akal. Begitu juga dengan setiap hujah dan persoalan yang cuba ditimbulkan lelaki itu dengan mudah dipatahkan oleh Haron Din dengan cara yang lembut dan bijaksana, tanpa sedikit pun menyinggung perasaannya sebagai orang bukan Islam.

Setelah empat minggu berturut-turut mengikuti kuliah yang diberikan oleh Haron Din, ego yang ada di dalam dirinya hancur dengan kebenaran Islam. 

Akhirnya hati lelaki itu terbuka untuk memeluk Islam. Enam bulan selepas itu, secara rasmi lelaki India tersebut memeluk Islam.

Dalam satu pertemuan empat mata dengan Haron Din setelah lelaki itu memeluk Islam, dia sempat bertanya mengapakah ulama tersebut mengeluarkan kenyataan seperti itu di kaca TV, sedangkan kenyataan itu boleh mengundang rasa tidak puas hati di kalangan bukan Islam, seperti apa yang dirasakannya.

Haron Din menjelaskan kepada lelaki India tersebut: “Memang kenyataan itu saya tujukan khusus untuk orang bukan Islam. Saya mahu orang bukan Islam berfikir tentang kehidupan, asal usul manusia dan kebenaran agama. Saya mendapat maklum balas, ramai di kalangan bukan Islam yang menonton rancangan itu. Jadi, sengaja saya bacakan ayat al-Quran itu agar mereka berfikir.”


Mohammad Fitri Abdullah

“Dan saya adalah di antara mereka yang terkena provokasi Haron Din itu. Biarpun pada peringkat awalnya saya bertemu beliau atas sebab tidak puas hati dengan kenyataannya, namun akhirnya, saya bersyukur, kerana ia menjadi penyebab yang membuatkan saya akhirnya menerima cahaya kebenaran Islam,” jelas Mohammad Fitri Abdullah, 43, lelaki India yang dimaksudkan dalam cerita di atas.

Ketika Mastika menemuinya di pejabat Perkim bahagian Shah Alam di Masjid Negeri Shah Alam, Fitri berulang kali menyatakan betapa syukurnya dia mendapat hidayah biarpun pada mulanya dia langsung tidak terfikir untuk memeluk Islam.

“Seperti yang saya katakan, pada awalnya niat saya adalah untuk berdebat dengan Haron Din akibat rasa tidak puas hati terhadap kenyataannya itu. Tetapi, apabila saya mendengar penjelasan beliau, ego saya jatuh dan dalam diam-diam saya mengakui, saya bukanlah orang yang layak untuk berdebat dengan beliau,” jelasnya.

Sebenarnya sebelum memeluk Islam, Fitri memang seorang yang taat terhadap agamanya. Dia bukan sekadar seorang pengikut yang taat, tetapi juga bergerak aktif dalam beberapa persatuan yang berteraskan agama yang dianutinya. 

Selain itu, dia turut mengajar di beberapa rumah ibadat di sekitar ibu kota. Biarpun kuat terhadap agamanya, namun jauh disudut hati, lelaki itu sering merasakan ada sesuatu yang tidak kena dengan agama yang dianutinya.

“Sebenarnya, agama tersebut juga mengajar pengikutnya untuk menyembah Tuhan yang satu. Di dalam kitab-kitab lama, itulah ajarannya. Tapi masalahnya, apa yang dilakukan oleh penganut agama tersebut berlainan daripada apa yang diajar di dalam kitab.

“Mereka tidak menyembah Tuhan yang satu, sebaliknya menyembah bermacam-macam Tuhan, selain dari Tuhan yang satu,” tegas lelaki yang berasal dan Banting, Selangor ini. 

Lantaran itulah kata Fitri, hatinya sering berasa ragu dengan agama sendiri. Perasaan ini bukannya baru, malah timbul sejak dia berusia belasan tahun lagi. 

Dia melihat apa yang diajar di dalam kitab, dengan apa yang dipraktikkan oleh penganut agama lamanya, termasuk dirinya sendiri, ternyata bercanggah sama sekali.

“Tetapi apabila saya mendengar kuliah Haron Din, diam-diam saya mula sedar, saya memang berada dalam kesesatan yang nyata. Pertama kali mendengar ceramah beliau, sudah cukup untuk memberi kesedaran pada diri saya sekali gus berjaya mengubah pandangan saya terhadap Islam selama ini. Mungkin itulah kelebihan yang Allah berikan pada Haron Din,” kata Fitri lagi.

Kejadian itu sebenarnya telah pun berlalu hampir 15 tahun, namun cahaya iman yang menyerap ke dalam hatinya masih lagi sesegar dulu. Malah, dari hari ke hari semakin kukuh bertapak di dalam dirinya.

Jika dahulu Fitri seorang mubaligh yang aktif menyebarkan agama lamanya, kini Fitri masih tetap begitu. “Cuma bezanya, hari ini saya bergerak di atas landasan agama yang benar iaitu Islam. Saya cukup sedih bila mendengar ada saudara seagama saya, terutamanya di kalangan orang Melayu yang sanggup keluar dari Islam. Murtad.

“Hari ini, menjadi tanggungjawab saya untuk membantu mereka, memulihkan iman mereka, dengan pelbagai usaha dan cara, termasuk berkongsi pengalaman yang saya lalui sebelum ini.

“Ini adalah tuntutan wajib buat diri saya. Dengan kelebihan yang Allah anugerahkan kepada saya, saya perlu laksanakan amanah ini biarpun berat, sebagai usaha saya membantu menyemarakkan agama Allah di muka bumi yang bertuah ini,” ujarnya bersungguh-sungguh mengakhiri pertemuan kami pada petang itu.

Wallahu’alam….

Dipetik Dari: halaqah.net