Selamat Maal-Hijrah 1435H

Selamat Maulidurrasul

Wednesday, June 24, 2020

Kesan Darah Pada Kain Turin Yang Didakwa Pernah Membalut Jesus


Konten Redaksi kumparan


Salib menyala
Salib yang MEnyala (Foto: Istimewa)
Baru-baru ini peneliti mengumumkan hasil pemeriksaan mereka terhadap bercak-bercak darah yang ditemukan pada kain kafan yang dipercaya sebagai kafan Yesus. Kain yang dinamakan kafan Turin ini adalah salah satu benda yang dianggap suci oleh umat Kristiani karena dipercaya sebagai kain kafan yang digunakan untuk menutupi Yesus pada saat dimakamkan setelah disalib.
ADVERTISEMENT
Pada kain kafan tersebut terdapat bekas-bekas darah dan gambar manusia yang diduga milik Yesus Kristus.
Belakangan, keaslian dari kain kafan ini menjadi pertanyaan. Apakah benar Yesus menggunakan kafan tersebut dan bercak darah tersebut benar-benar milik Yesus?
Sebelumnya, hasil penanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa kafan itu kemungkinan tidak berasal dari masa Yesus Kristus. Kain kafan tersebut diduga berasal dari antara tahun 1260 hingga 1390 Masehi, 12 abad setelah kematian Yesus.


Kain Kafan Turin NOTCOVER
Kain Kafan Turin (Foto: Wikimedia Commons)
Tenunan dan kain yang digunakan untuk kafan Turin bisa saja menunjukkan bahwa kain tersebut berasal dari masa keberadaan Yesus ataupun dari Abad Pertengahan. Pada kain tersebut ditemukan pigmen yang berasal dari Timur Tengah. Akan tetapi, bukti tersebut tidaklah cukup untuk membenarkan keaslian kain kafan Turin.
ADVERTISEMENT
Matteo Borrini, Ph.D dari School of Natural Sciences and Psychology, Liverpool John Moores University, dan Luigi Garlaschelli dari Italian Committee for the Investigation of Claims of the Pseudosciences, telah melakukan pemeriksaan terhadap kain kafan tersebut. Selain memeriksa kainnya, Borrini dan Moores juga melakukan pemeriksaan pada bercak darah serta polanya.


Yesus Kristus
Yesus terbang ke langit (Foto: John Singleton Copley)
Mereka melihat pola bercak darah melalui teknik yang disebut Bloodstain Pattern Analyst (Analisis Pola Bercak Darah/BPA) dengan menggunakan darah manusia dan darah sintetis.
Semula, Borrini dan rekannya hanya ingin mengetahui apakah Yesus disalib dengan menggunakan salib berbetuk Y atau T. Namun hasilnya justru menunjukkan bahwa darah tersebut jatuh secara vertikal dan acak. Hal ini tentu kontras dengan kepercayaan selama ini bahwa Yesus dibaringkan kemudian ditutup dengan kafan.
ADVERTISEMENT
Peneliti mengatakan bahwa noda darah pada kafan Turin menunjukkan bahwa darah tersebut mengalir dari beberapa pose yang berbeda. Ada pola darah di tangan, dada, dan punggung. Bentuk noda darah pada kain kafan Turin pun dinilai tidak konsisten.
Video
"Kedua aliran darah pendek di bagian belakang tangan kiri kain kafan hanya dapat terjadi bila subjek berdiri dan tangannya berada pada sudut 45 derajat," tulis studi tersebut dikutip dari News.com.au.
“BPA darah yang terlihat pada sisi depan dada (luka tombak) menunjukkan bahwa kain kafan menunjukkan noda darah yang hanya dapat dihasilkan bila subjek berdiri. Sementara pendarahan di punggung, bila berasal dari mayat yang sama, terlihat tidak realistis.”
Hasil analisis ini telah dipublikasikan di Journal of Forensic Science.
ADVERTISEMENT

Teori Evolusi Satu Penipuan Ilmiah Terbesar

Seperti yang telah diuji dan ditunjukkan sejauh ini, teori evolusi tidak mempunyai dasar ilmiah. Namun kebanyakan orang di dunia tidak menyedarinya, dan menganggap evolusi sebagai fakta ilmiah.



Doktrin dan propaganda sistematik melalui media adalah kunci kejayaan penipuan ini. Kerana itu, kita perlu mengulas ciri-ciri khusus doktrin dan propaganda ini.

Jika meneliti media-media Barat, kita akan sering membaca berita-berita yang membahas teori evolusi. Organisasi media terkemuka dan majalah-majalah terkenal mengangkat topik ini secara berkala.

Dari pendekatan mereka, orang akan mendapat kesan bahawa teori ini benar-benar fakta yang telah terbukti tanpa peluang untuk sebarang diskusi. Pembaca awam biasanya mula berfikir bahawa teori evolusi adalah fakta yang sama pastinya dengan hukum matematik.

Berita seperti ini di media-media terkemuka akan dikutip pula oleh media tempatan. Mereka mencetak dengan headline besar, “Menurut majalah Time, fosil baru mata rantai yang hilang telah ditemui”; atau “Nature menyatakan bahawa para saintis telah menemui titik terang dalam persoalan terakhir teori evolusi”.

Walhal, penemuan “mata rantai terakhir yang hilang dari rantai evolusi” tidak bererti apa-apa, kerana tidak ada bukti sama sekali tentang evolusi.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, segala sesuatu yang ditunjukkan sebagai bukti hanyalah pembohongan.

Di samping media, perkara serupa terjadi pula pada sumber-sumber ilmiah, ensiklopedia, dan buku-buku biologi.


Propaganda Evolusionis. Majalah-majalah ilmu pengetahuan popular telah memimpin propaganda evolusi dan berperanan penting dalam mengajak masyarakat mempercayai teori evolusi.

Singkatnya, media dan kalangan akademik yang menjadi pusat-pusat kekuatan anti agama, mempertahankan pandangan evolusionis dan memaksakannya kepada masyarakat.

Pemaksaan ini begitu efektif sehingga akhirnya evolusi menjadi sebuah gagasan yang tidak pernah ditolak. Penolakan terhadap teori evolusi dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan mengabaikan realiti-realiti asas.

Kerananya, walaupun banyak kelemahan telah tersingkap (terutama sejak 1950an), dan kenyataan ini diakui ilmuwan evolusionis sendiri, mustahil menemui pengkritik terhadap evolusi dalam lingkungan ilmiah atau dalam media.

Majalah-majalah yang diterima luas sebagai penerbitan paling berpengaruh dalam bidang biologi dan ilmu alam di Barat seperti Scientific American, Nature, Focus dan National Geographic, mengambil teori evolusi sebagai ideologi rasmi dan berusaha menyajikan teori ini sebagai fakta yang telah dibuktikan kebenarannya.

Pembohongan yang Terbungkus Rapi

Pengikut evolusionis mendapat banyak keuntungan dari program “cuci otak” media. Ramai orang percaya begitu saja pada evolusi tanpa merasakan perlu bertanya “bagaimana” dan “mengapa”.

Ini bererti evolusionis dapat mengemaskini pembohongan-pembohongan mereka sedemikian rupa sehingga mampu meyakinkan orang dengan mudah.

Sebagai contoh, bahkan dalam buku evolusionis paling “ilmiah”, “transisi dari air ke darat” yang merupakan fenomena terbesar evolusi tanpa bukti, “dijelaskan” dengan kesederhanaan yang jitu.

Menurut teori evolusi, kehidupan bermula di air dan haiwan yang pertama berkembang adalah ikan. Teori ini mengatakan bahawa pada suatu masa ikan-ikan ini meloncat ke darat kerana suatu alasan (acap kali, kemarau dijadikan alasan) dan ikan-ikan memutuskan untuk hidup di darat kemudian memiliki kaki dan paru-paru, bukan sirip dan insang.

Kebanyakan buku evolusionis tidak menjawab pertanyaan “bagaimana” dalam suatu pokok perbahasan. Malah dalam sumber paling “ilmiah” pun, kejanggalan pernyataan mereka ditutup dengan kalimat seperti “peralihan dari air ke darat akhirnya terjadi”.

Bagaimana “peralihan” ini terjadi? Kita tahu bahawa ikan tidak dapat bertahan hidup di darat lebih dari beberapa minit.

Jika kita andaikan musim kering berlaku dan ikan harus pindah ke darat, apa yang akan terjadi kepada ikan tersebut? Jawabannya sudah jelas. Semua ikan akan mati satu per satu dalam beberapa minit.

Walaupun proses ini berlangsung dalam jangka masa puluhan juta tahun, jawapannya tetap sama: ikan akan mati satu per satu.

Alasannya, organ sekompleks paru-paru tidak akan sekonyong-konyong muncul secara “kebetulan” melalui mutasi; tetapi dipihak lain, sesetengah paru-paru pun tidak berguna sama sekali.

Akan tetapi, persis seperti inilah yang diajukan evolusionis. “Peralihan dari air ke darat”, “peralihan dari darat ke udara” dan banyak lagi lompatan-lompatan lain “dijelaskan” dalam istilah-istilah yang tidak logik. Sementara tentang pembentukan organ-organ sekompleks mata dan telinga, evolusionis lebih memilih untuk diam.

Sangat mudah mempengaruhi orang di jalanan dengan paket “ilmu pengetahuan” ini. Anda hanya perlu membuat gambar khayalan yang menunjukkan peralihan dari darat ke air, mengarang nama Latin untuk haiwan di air, “keturunannya” di darat, dan “bentuk transisi” (yang merupakan haiwan rekaan), kemudian menyusun pembohongan besar: “Dalam proses evolusi yang panjang, Eusthenopteron mula-mula berubah menjadi Rhiptistian Crossopterian, kemudian menjadi Ichthyostega“.

Anda akan berjaya meyakinkan ramai orang jika kata-kata ini disampaikan oleh seorang ilmuwan berkacamata tebal. Ini kerana media yang membaktikan diri untuk mempromosikan evolusi akan membantu anda mengumumkan berita baik ini ke seluruh dunia dengan kadar kepercayaan yang sangat tinggi.

Dongeng Evolusionis

Seperti dikatakan seorang ilmuwan terkemuka, teori evolusi adalah dongeng untuk orang dewasa. Evolusi adalah senario yang sangat tidak masuk akal dan tidak ilmiah, yang menganggap benda mati memiliki kekuatan dan kecerdasan ajaib untuk mencipta bentuk-bentuk kehidupan yang kompleks. Kisah panjang ini mengandung artikel menarik tentang beberapa subjek.

Salah satu artikel yang pelik adalah tentang “evolusi ikan paus” yang diterbitkan National Geographic, salah satu majalah yang dianggap sebagai media paling berpengaruh dan serius di dunia:

Ikan paus dengan saiz yang besar bermula pada 60 juta tahun yang lalu, ketika mamalia berambut dan berkaki empat yang mencari makanan atau perlindungan masuk ke dalam air. Masa demi masa berlalu, perubahan sedikit demi sedikit terjadi. Kaki belakang lenyap, kaki depan menjadi sirip, bulu-bulu gugur menyisakan lapisan lemak yang tebal dan licin, hidung pindah ke bahagian atas kepala, ekor melebar menjadi sirip belakang dan di dunia air tubuhnya menjadi sangat besar.1

Selain tidak mempunyai landasan ilmiah, kejadian seperti ini bertentangan dengan prinsip-prinsip alam. Artikel yang diterbitkan dalam National Geographic ini patut dicatat sebagai besarnya pembohongan dalam terbitan-terbitan evolusionis yang tampak serius.

Dongeng lain yang patut mendapat perhatian adalah mengenai asal usul mamalia. Kaum evolusionis menyatakan bahawa nenek moyang mamalia adalah reptilia. Namun ketika hendak menjelaskan peralihan bentuk secara terperinci, muncul cerita menarik. Berikut adalah contohnya:

Sebahagian reptilia di wilayah sejuk mula mengembangkan cara untuk menjaga tubuh mereka supaya tetap hangat. Panas yang dikeluarkan tubuh meningkat ketika cuaca dingin, dan panas yang hilang semakin berkurangan ketika sisik mengecil dan meruncing, dan akhirnya menjadi bulu. Berkeringat pun merupakan adaptasi untuk mengatur suhu tubuh, suatu cara untuk menyejukkan tubuh ketika diperlukan, dengan menguapkan air. Namun secara kebetulan, reptilia muda mula menjilat keringat induknya sebagai makanan. Kelenjar keringat tertentu mula mengeluarkan keringat yang semakin lama semakin bergizi sehingga akhirnya menjadi susu. Maka, mamalia muda pertama ini memulakan kehidupan dengan lebih baik.2

Gagasan bahawa makanan yang terpola dengan baik seperti susu berasal dari kelenjar keringat, serta semua perincian di atas hanyalah imaginasi evolusioner yang pelik dan tanpa dasar ilmiah.

1) Victor B. Scheffer, “Exploring the Lives of Whales”, National Geographic, Vol. 50, Desember 1976, hlm. 752
2) George Gamow, Martynas Ycas, Mr. Tompkins Inside Himself, London: Allen & Unwin, 1968, hlm. 149

Kesimpulan. Evolusi Adalah Sebuah Pembohongan

Masih banyak bukti dan hukum-hukum ilmiah lain yang menggugurkan teori evolusi. Namun, kita hanya membahas beberapa di antaranya. Itu pun seharusnya sudah cukup untuk menyingkap sebuah kebenaran terpenting.

Meskipun ditutup-tutupi dengan kedok ilmu pengetahuan, teori evolusi hanyalah sebuah pembohongan; Pembohongan yang dipertahankan hanya untuk kepentingan falsafah materialistik.

Pembohongan yang tidak berdasarkan kepada ilmu pengetahuan tetapi pencucian otak, propaganda dan penipuan jijik.

Sumber artikel: http://www.sentiasapanas.com

Saturday, June 6, 2020

Jawapan Kepada Isu Perkahwinan Rasulullah (SAW) Dengan Aisyah

Menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, berkata ia: Menceritakan kepad kami Sufyan dari riwayat Hisyam, dari riwayat ayahnya, dari riwayat Aisyah RA: Bahwasanya Nabi SAWS menikahinya ketika umur beliau enam tahun, dan hidup serumah dangannya ketika umur beliau (Aisyah) sembilan tahun, dan beliau hidup beserta Rasul selama sembilan tahun.
(H.R Bukhari: 5133 )


Jawapan kepada isu ini:
1. Sabit dalam hadis-hadis sahih bahawa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berkahwin dengan Aisyah r.a. ketika beliau berumur 6 tahun dan mereka mula bersama ketika Aisyah berumur 9 tahun.

2. Fakta ini diterima dengan kesepakatan seluruh umat Islam. Kata Ibn Kathir, “Hadis baginda berkahwin dengan Aisyah ketika berumur 6 tahun, dan bersama dengannya ketika berumur 9 tahun’ tidak ada khilaf antara manusia. Ia sabit dalam kitab-kitab hadis sahih dan lain-lain”. (Al-Bidayah wa an-Nihayah 3/161).

3. Tidak ada keganjilan dalam kes ini, kerana wanita yang hidup di negara-negara beriklim panas lebih cepat baligh, lebih cepat matang dan bersedia untuk menjadi isteri lebih awal.

Aisyah r.a. sendiri mengakui dengan kata-katanya, “Apabila kanak-kanak wanita mencapai umur 9 tahun, maka dia sudah bergelar wanita”. (Sunan Tirmizi 3/417).

Kata Imam Syafie: “Aku melihat banyak sekali di Yaman kanak-kanak perempuan baligh ketika usia 9 tahun”. (Siyar A’lam Nubala 10/91).

Kata Imam Syafie lagi: “Aku menjumpai di San’aa (Yaman) seorang nenek berusia 21 tahun”. Dia mula haidh (baligh) ketika usia 9 tahun, dan melahirkan anak ketika usia 10 tahun. Anaknya pula haidh ketika usia 9 tahun dan beranak ketika usia 10 tahun”. (Sunan Kubro Baihaqi 1/319).
Jadi, kebiasaan wanita-wanita Arab baligh dan bersedia menjadi isteri ketika usia 9 tahun.


4. Antara yang menunjukkan kebiasaan Arab pada zaman tersebut wanita berkahwin dalam usia yang begitu muda, ialah tidak dinukilkan oleh sejarawan bahawa musuh-musuh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mentohmah baginda dengan kes perkahwinannya dengan Aisyah.
Jika sekiranya ia suatu yang mengaibkan, nescaya pasti dinukilkan tohmahan-tohmahan daripada musuh-musuh sekelilingnya dari kalangan musyrikin dan munafiqin.

5. Perkahwinan baginda dengan Aisyah juga adalah pilihan Allah Taala untuk baginda. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam telah bermimpi tentangnya, dan dimaklumi mimpi baginda adalah wahyu.

Di dalam Sahih Bukhari, maksudnya: Nabi sallallahu alaihi wasallam berkata kepada Aisyah, “Aku melihat engkau di dalam mimpi sebanyak dua kali. Iaitu engkau berada di dalam kelubung daripada sutera. Dan dikatakan kepadaku: Inilah isteri kamu, maka singkapkanlah dia. Tiba-tiba perempuan itu ialah engkau. Lalu aku berkata: Jika ia adalah daripada Allah, maka Dia akan meneruskannya”. (Bukhari no: 3682).

6. Antara hikmah perkahwinan baginda dengan Aisyah ialah dari sudut sebaran ilmu hadis. Dimaklumi Aisyah adalah seorang wanita yang cerdik dan bijak. Kebersamaannya dengan baginda sejak usia 9 tahun telah memberi ruang yang luas kepadanya untuk tahammul (menghafal) hadis-hadis Nabi. Dan terbukti beliau termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis.

7. Tohmahan musuh-musuh Islam, bahawa baginda berkahwin dengan Aisyah yang muda semata-mata kerana nafsu adalah tertolak. Lihatlah kesemua isteri-isteri Nabi sallallahu alaihi wasallam selain Aisyah RA. Kesemua mereka adalah janda, kecuali Aisyah. Malahan ada yang menjadi isteri baginda ketika sudah berusia seperti Saudah.

Sebenarnya, musuh-musuh Islam sudah ketandusan idea untuk menolak kehebatan dan kebenaran agama Islam ini. Sehingga akhirnya mereka terpaksa membuat tohmahan berbentuk keduniaan pula.
 
Tags: , , ,

Sumber: |https://malay.bismikaallahuma.org/2011/jawapan-kepada-isu-perkahwinan-rasulullah-dengan-aisyah/

Tuesday, May 19, 2020

Kata-Kata Imam Malik yang SAHIH


 " الاستواء غير مجهول والكيف غير معقول "
 -كلام من إمام مالك-
 Maksudnya: "Istiwa' diketahui, tapi 'Bagaimana' tidak boleh diterima akal."
Kata-Kata Imam Malik yang Sahih.
المخطوطة التي أحرقت قلوب المجسمة أدعياء السلفية الوهابية:
الإمام مالك في تفسيره ءاية الاستواء يقول: "والكيف - أي عن الله - غير معقول".
أي لا يجوز أن يقال عن الله كيف ﻷنه خالق الكيف. والكيف كل ما كان من صفات المخلوقات.
نقل ذلك عنه الحافظ البيهقي في اﻷسماء والصفات بإسناد جيد.
ولا يوجد رواية صحيحة مسندة عن الإمام مالك فيها لفظ: "والكيف مجهول" في تفسير آية الاستواء.
Maksudnya: Catatan yang membakar hati kaum Mujassimah yang digelar Salafi Wahabi. Imam Malik di dalam menafsirkan ayat tentang 'Istiwa' berkata: "Dan 'Bagaimana' -iaitu berkenaan Allah- tidak dapat diterima akal."
Iaitu tidak harus yakni haram untuk bercakap berkenaan Allah menyebut 'bagaimana' sedangkan DIA yang mencipta 'bagaimana.' 'Bagaimana' adalalah termasuk dalam sifat-sifat makhluk.
Ini dinaqalkan daripada al-Hafiz al-Baihaqi di dalam Al-Asma' wa as-Sifat dengan sanad yang baik.
Tidak ada satu pun riwayat yang sahih yang disandarkan daripada Imam Malik yang terdapat lafaz:
     "والكيف  مجهول"                 
bermaksud "Dan 'Bagaimana' tidak diketahui" dalam menafsirkan ayat berkenaan 'Istiwa'.

https://www.facebook.com/nabil.tolibililmi/posts/2960385513998960

Sibawaih Bau Buah Epal


Pernah dengar nama Sibaweh tak? Bila dikaitkan dengan Bahasa Arab terutamanya ilmu nahu maka selalu dikaitkan dengan seorang lelaki bernama Sibaweh.
Sibaweh ialah seorang imam ikutan dalam Bahasa Arab dan seorang yang soleh dari Basrah. Namanya ialah Amru bin Uthman.
Sibaweh itu ialah laqab (gelaran).
Laqab bermaksud setiap ungkapan merujuk kepada kehebatan atau kekurangan. Kalimah Sibaweh bermaksud bau buah epal dan ia adalah kalimah dalam Bahasa Parsi.
Setelah kematian Sibaweh, beliau dilihat di dalam mimpi oleh seorang lelaki yang pernah melihatnya di dunia. Lalu lelaki itu bertanya kepada Sibaweh :
Apa yang telah Allaah perlakukan kepadamu?
Sibaweh berkata :
غَفَرَ لِي لقَوْلِي: "الله" أعرف المعارف (معناهُ كُلُّ شىءٍ يَدُلُّ عَلَيْهِ أي يَدُلُّ عَلى وُجُودِهِ).
"Allaah telah mengampuni dosaku kerana pendapatku yang menyatakan bahawa :
"Allaah" adalah kalimah yang paling makrifah. (Maknanya setiap sesuatu menunjukkan ke atasnya iaitu menunjukkan atas kewujudan-Nya.)
Nama-nama di sisi ulama Nahu ada dua bahagian :
- Maarif /Makrifah
- Nakiraat/Nakirah
Maarif itu pula ada tingkatan/martabat. Nama yang paling makrifah mengikut Sibaweh adalah " Allaah"
Hal tersebut kerana setiap sesuatu adalah dalil atau bukti akan kewujudan Allaah. Maka tidak ada sesuatu yang diketahui boleh mempersaksikan kewujudan-Nya kepada setiap sesuatu melainkan "Allaah". Justeru, tidak harus menamakan dengan nama ini kepada sesiapapun melainkan kepada-Nya sahaja.
Sibaweh pernah membaca ke atas gurunya ketika mula-mula dia belajar lalu dia telah buat lahan (kesalahan dari sudut i^rab). Seraya beliau berkata :
لأَتَعَلَّمَنَّ حَتّى لا أَلْحَنَ
"Aku akan belajar bersungguh-sungguh hingga aku tidak lagi buat lahan/ kesalahan i'rab". Beliau telah belajar hingga menjadi imam ikutan dalam ilmu nahu.
Sibaweh meninggal ketika berusia 33 tahun.
Rahimahullaah..semoga Allah taala memberi kita manfaat dari ilmu-ilmunya.

 https://www.facebook.com/abulehyah.alqelantany

IJMAK (kesepakatan) seluruh ulama bahawasanya ALLAH ADA TANPA TEMPAT

Hantaran yang tular itu tidak dirincikan dengan dalil kerana tujuan asalnya hanya untuk sampaikan kesimpulan huraian kepada dalil.

Pada hemat saya ia memadai apabila dinukilkan 1 kalam ulama Melayu sebagai wakil bagi sekalian ulama Nusantara bahasawanya ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH.

Bila diminta dalil Al-Quran, kerana ada yang mendakwa saya guna cara sendiri tidak guna dalil daripada Al-Quran dan Hadith, maka kita pun beri:

i. Al-Quran
ليس كمثله شيء


ii. Hadith

كان الله ولم يكن شيء غيره

Namun, yang meminta dalil tidak menerima juga. Katanya ini bukan dalil. Maka, masalah sebenarnya bukan pada dalil tetapi pada pemahaman tentang dalil. Sebab itu mudahnya buat kesimpulan atas huraian kepada dalil.

Para ulama menggunakan dalil ini dan mereka mengatakan inilah ayat yang paling jelas dalam Al-Quran. Paling jelas maksudnya paling kuat. Pun begitu, masih terdapat segelintir yang mengatakan mengapa mahu ikut tok guru dan menolak Al-Quran?

Orang seperti ini harus ada kesedaran dalam dirinya bahawasanya seorang pentafsir Al-Quran perlu mahir 15 bidang ilmu (ada yang kata 16). Maka apakah seseorang itu ingin bandingkan dirinya dengan ulama dengan semata-mata berpandukan terjemahan lalu mendakwa dirinya berpandukan Al-Quran?

Lalu adakah makna di sini pada dakwaannya itu, dirinya yang berpandukan terjemahan (yang mana terjemahan itu dibuat oleh orang lain) lebih faham Al-Quran daripada para mufassirin (ahli tatsir)? Orang seperti ini perlu ada kesedaran bagi meletakkan dirinya sesuai pada martabatnya tanpa merendahkan ulama.

Saya nukilkan juga IJMAK (kesepakatan) seluruh ulama bahawasanya ALLAH ADA TANPA TEMPAT. Ia sebenarnya sangat cukup bila mana kita kenal ulama dan tahu makna IJMAK.

Lampiran nukilan ijmak seperti pada gambar. Ia dinukilkan oleh Imam Abu Mansur Al-Baghdadi dalam kitabnya Al-Farqu bainal Firaq


 https://www.facebook.com/ateeqzarzaie/posts/3443099102386651

ALLAH BUKAN DI LANGIT (BAHAGIAN 3)



[Bantahan terhadap syubhat-syubhat kaum Mujassimah yang berkeyakinan bahawa Allah bertempat di langit]
Dalil lain yang sering dijadikan sebagai hujjah kaum Mujassimah adalah hadits dalam Sahih Muslim berbunyi:
قَالَ: وَكَانَتْ لِي جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِي قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ، فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا، وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، آسَفُ كَمَا يَأْسَفُونَ، لَكِنِّي صَكَكْتُهَا صَكَّةً، فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا؟ قَالَ: ائْتِنِي بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا، فَقَالَ لَهَا: أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ، قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ، قَالَ: أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
Ertinya: Mu’awiyah ibn al-Hakam al-Salamy berkata: “Aku memiliki seorang hamba perempuan yang mengembala kambing-kambingku disekitar Uhud dan Jawaniyah. Pada suatu hari aku saksikan seekor serigala menyambar seekor kambing gembalaannya, kerana aku seorang anak Adam (manusia biasa) maka aku menyesalinya seperti mereka juga menyesalinya. Hanya saja aku menempelengnya dengan sekali tempelengan, kemudian aku mendatangi Rasulullah SAW, aku menyesali perbuatanku. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah perlu aku merdekakan dia?” Beliau bersabda, “Bawa dia kemari!” Maka aku bawa ia menghadap beliau. Beliau bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Ia menjawab, “Di langit.” Siapa aku?, lanjut Nabi. ‘Engkau Rasulullah’, jawabnya. Maka Beliau bersabda, “Merdekakan dia! Sesungguhnya ia seorang mukminah.”(H.R. Muslim)[1]
Kaum Mujasssimah mengatakan, hadits ini dengan jelas menerangkan kepada kita bahawa Allah berada di langit sesuai dengan pengakuan budak perempuan dalam kisah hadits ini dan Rasulullah SAW sendiri mengakui keimanannya dengan sebab pengakuan tersebut. Selanjutnya mereka mengatakan, dengan demikian i’tiqad bahawa Allah berada di langit merupakan i’tiqad yang haq.
Bantahan:
Perlu menjadi catatan bagi kita bahawa dalam bidang pokok-pokok akidah (keyakinan) tidak dibolehkan kecuali ditegakkan di atas asas dan dasar yang qath’i (pasti dan tidak mengandung takwil atau kesamaran). Kerana itu, Allah berfirman dalam al-Qur’an:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Ertinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan (keyakinan) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S. al-Isra’: 36)
Ini berbeza dengan masalah-masalah furu’iyah (fiqh praktis/amaliyah) dimana para ulama membolehkan membangun kesimpulan mengenainya berdasarkan dalil-dalil zhanniyah (dugaan yang tidak sampai kepada yakin). Kami kira semua orang akan mudah memahami ini, kerana tidak mungkin sebuah kesimpulan yang bersifat qath’i dibangun hanya dari dalil yang bersifat zhanni.
Hadits ahad hanya bernilai zhanni, tidak qath’i.
Hadits ahad adalah hadits yang diriwayat oleh satu orang atau lebih, tetapi tidak sampai kepada tingkatan mutawatir. Jumhur ulama Islam menjelaskan kepada kita bahawa hadits ahad ini tidak bersifat qath’i, tetapi hanya zhanni. Berikut ini sejumlah penjelasan dari ulama-ulama kita, antara lain:
1. Imam al-Juwaini yang lebih dikenal dengan gelar Imam al-Haramain mengatakan dalam kitabnya:
وخبر الواحد لا يعقب العلم
“Hadits ahad tidak menghasilkan ilmu (keyakinan)”[2]
Dalam kitab karya beliau yang lain, beliau mengatakan:
والاحاد وهو الذي يوجب العمل ولا يوجب العلم لاحتمال الخطأ فيه
“Ahad adalah yang mewajibkan amal dan tidak mewajibkan ilmu (keyakinan), kerana ada kemungkinan salah padanya.”[3]
2. Zakariya al-Anshari mengatakan:
واما مظنون الصدق فخبرالواحد وهو مالم ينته الى التواتر
“Adapun yang zhan benar, maka itu adalah hadits ahad, yakni yang tidak sampai kepada tingkatan mutawatir.”[4]
3. Imam al-Nawawi mengatakan:
فَالَّذِي عَلَيْهِ جَمَاهِيرُ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ وَالْفُقَهَاءِ وَأَصْحَابِ الْأُصُولِ أَنَّ خَبَرَ الْوَاحِدِ الثِّقَةِ حُجَّةٌ مِنْ حُجَجِ الشَّرْعِ يَلْزَمُ الْعَمَلُ بِهَا وَيُفِيدُ الظَّنَّ وَلَا يُفِيدُ الْعِلْمَ
“Maka pendapat yang pegangan jumhur kaum Muslimin, baik sahabat, tabi’in mahupun ulama-ulama sesudah mereka, ahli hadits, fuqaha dan ahli usul adalah hadits ahad dari orang yang dipercayai menjadi hujjah dari segala hujjah syara’ yang mewajibkan amal dengannya, tetapi tidak memfaedahkan ilmu (keyakinan).”
Selanjutnya beliau menjelaskan:
وذهب بعض المحدثين إلى أن الاحاد التي في صحيح البخاري أو صحيح مسلم تفيد العلم دون غيرها من الاحاد ؟ وقد قدمنا هذا القول وإبطاله في الفصول
“Sebahagian Ahli Hadits berpendapat bahawa hadits Ahad yang ada dalam Sahih Bukhari dan Muslim memberikan kepastian informasi, tidak hadits Ahad dalam selain keduanya. Dan telah kami paparkan panjang lebar bukti kebatilan pendapat ini dalam beberapa fasal sebelumnya…..”[5]
4. Al-Hafiz Ibnu Abd al-Barr mengatakan:
وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا وَغَيْرُهُمْ فِي خَبَرِ الْوَاحِدِ الْعَدْلِ هَلْ يُوجِبُ الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا أَمْ يُوجِبُ الْعَمَلَ دُونَ الْعِلْمِ وَالَّذِي عَلَيْهِ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْهُمْ أَنَّهُ يُوجِبُ الْعَمَلَ دُونَ الْعِلْمِ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَجُمْهُورُ أَهْلِ الْفِقْهِ وَالنَّظَرِ وَلَا يُوجِبُ الْعِلْمَ عِنْدَهُمْ إِلَّا مَا شَهِدَ بِهِ عَلَى اللَّهِ وَقَطَعَ الْعُذْرُ بِمَجِيئِهِ قَطْعًا وَلَا خلاف فيه
“Para ulama kami (Malikiyah) dan selainnya berselisih pendapat tentang hadits ahad yang adil, apakah ia memberikan kepastian ilmu (keyakinan) dan menjadi dasar pengamalan atau hanya pengamalan saja? Menurut majoriti ulama ia hanya menentukan amal saja tidak memberikan kesimpulan ilmu pasti. Ini adalah pendapat Syafi’i dan jumhur Ahli Fiqh dan Teologi. Menurut mereka tidaklah memberikan kepastian ilmu kecuali yang dikuatkan dari Allah dan memutus semua uzur, sebab ia telah datang dari jalur pasti yang tidak diperselisihkan lagi.”[6]
Berdasar keterangan ulama–ulama besar kita di atas, nyatalah bagi kita bahawa hadits ahad yang bernilai zhanni ini tidak dapat menjadi hujjah dalam bidang akidah. Ketidakhujjahan tersebut kerana kemungkinan adanya kesalahan, kealpaan, pemalsuan boleh saja terjadi, sedangkan akidah sebagaimana dimaklumi dibangun atas dasar keyakinan dan kepastian.[7]
Hadits al-jariah (hamba perempuan) di atas adalah hadits ahad.
Hadits al-jariah ini sebagaimana telah dikutip di atas merupakan hadits riwayat Imam Muslim melalui jalur ‘Atha’ bin Yasar dari Mu’awiyah bin al-Salamy. 
Hadits ini tidak diriwayat oleh Imam al-Bukhari. Hadits ini merupakan hadits ahad yang riwayatnya tidak sampai kepada tingkatan mutawatir. 
Dengan demikian, tingkat kebenaran hadits ini tidak sampai tingkatan keyakinan, tetapi hanya tingkatan zhan saja. Kerana itu, sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka hadits ini tidak dapat menjadi hujjah dalam bidang akidah, kerana keyakinan dalam bidang akidah harus dibangun berdasarkan dalil yang pasti/yakin, tidak boleh hanya dengan pembuktian yang nilainya hanya zhan saja. Lagi pula hadits ini meskipun sahih sanadnya, tetapi makna zahirnya bertentangan dengan aqidah yang sudah menjadi ijmak ulama' bahawa Allah tidak bertempat dan tidak mempunyai arah sebagaimana telah dijelaskan pada bahagian 1 tulisan ini.
Perlu menjadi catatan kita bahawa hadits al-jariah ini datang dalam kebanyakan riwayat lainnya dengan mempunyai matan yang berbeza dengan riwayat Muslim di atas. 
 Riwayat-riwayat itu antara lain:
1. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Ibnu Juraij, ia berkata, Atha’ mengkhabarkan kepadaku:
فَسَأَلَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَشْهَدِينَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ؟ " قَالَتْ: نَعَمْ وَأَنَّ الْمَوْتَ وَالْبَعْثَ 
حَقٌّ؟ قَالَتْ: نَعَمْ وَأَنَّ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ حَقٌّ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: أَعْتِقْ أَوْ أَمْسِكْ
Ertinya: Nabi SAW menanyakan kepada hamba perempuan itu, “Apakah engkau bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau bersaksi bahawa Muhammad adalah Rasul Allah?” Ia menjawab, “Ya.” Nabi SAW bertanya, “Apakah engkau beriman bahawa kematian dan kebangkitan setelah kematian haq?” Ia menjawab, “Ya. Nabi SAW bertanya lagi, “Apakah engkau beriman bahawa syurga dan nereka itu haq? “Ia menjawab, “Ya.” Maka setelah selesai, Nabi SAW bersabda, “Merdekakan atau tahan dia”(H.R. Abdurrazzaq)[8]
Hadits ini juga telah diriwayat oleh Ahmad bin Hambal dalam Musnad-nya,[9] al-Haitsami 
mengatakan, hadits riwayat Ahmad ini rijalnya sahih.[10]
2. Hadits diriwayat dari Abu Hurairah r.a:
أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِجَارِيَةٍ سَوْدَاءَ أَعْجَمِيَّةٍ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ عَلَيَّ عتق رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ 
اللَّهِ  - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: 
" أَيْنَ اللَّهُ؟ " فَأَشَارَتْ بِرَأْسِهَا إِلَى السَّمَاءِ بِأُصْبُعِهَا السَّبَّابَةِ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: " مَنْ أَنَا؟ " فَأَشَارَتْ 
بِأُصْبُعِهَا  إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَإِلَى السَّمَاءِ ;أَيْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ: " أَعْتِقْهَا".
Ertinya: Sesungguhnya seorang lelaki mendatangi Nabi SAW dengan seorang hamba perempuan hitam ‘ajamiah, dia berkata kepada Rasulullah SAW,: “Ya Rasulullah, sesungguhnya ada kewajipan atasku memerdekakan seorang hamba perempuan yang beriman.” Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Dimana Allah?” maka hamba itu mengisyaratkan dengan kepalanya ke langit serta telunjuknya. Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan pertanyaan: “Siapa saya?”, budak itu mengisyaratkan dengan telunjuknya kepada Rasulullah SAW dan kepada langit, maksudnya “Engkau Rasulullah”. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Merdekakan dia” (H.R. Ahmad, al-Bazar dan al-Thabrani dalam al-Ausath. Rijalnya dipercayai) [11]
3. Hadits dari Abu Salamah dari Syarid berkata:
أتيت النبي صلعم فقلت: إنَّ عَلى أُمِّيْ رَقَبَةً وإنَّ عِنْدِي جارِيَةً سَوْداءَ نُوْبِيَّةً، أَفَتُجْزِئُ عَنْها ؟ قال: أدع بها! فقال: أَتَشْهَدِيْنَ أنْ لا إله إلا 
اللهُ ؟ قالت: نعم. قال: أَعْتِقْهَا فَإنَّها مُؤْمِنَةٌ!
Ertinya: Aku mendatangi Nabi SAW dan berkata, ‘Sesungguhnya atas ibuku kewajipan memerdekakan hamba sahaya, dan aku punya seorang budak perempuan berkulit hitam dari suku Nubi, apakah ia memadai? Nabi SAW bersabda, ‘Bawa dia ke mari!’ (setelah ia didatangkan) Nabi SAW bertanya kepadanya, ‘Apakah engkau bersaksi bahawa tiada tuhan selain Allah? Ia menjawab, ‘Ya.’ Maka Nabi SAW bersabda ‘Merdekakan dia, sesungguhnya dia seorang wanita mukminah!’ (H.R. al-Darimi)[12]
4. Dari Syarid ibn Suwaid al-Tsaqafi, ia berkata:
قلت يا رسول الله، إنَّ أُمِّي أَوْصَتْ أنْ نُعْتِقَ عَنها رَقَبَةً وعندي جارِيَةٌ سَوْدَاءُ، قال: أُدْعُ بِها! فَجَاءتْ، فقال: مَنْ رَبُّكَ ؟ قالت: اللهُ. قال: 
مَنْ أنَا؟ قالت: أنْتَ رَسُوْلُ اللهِ. قال: أعتقها فإنها مؤمنة
Ertinya: Aku mengatakan: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku berwasiat agar kami memerdekakan hamba dan aku punya seorang hamba sahaya berkulit hitam. Nabi SAW bersabda, ‘Panggil dia!’ Lalu dia datang, maka Nabi SAW bertanya, ‘Siapa Tuhanmu? Ia berkata, ‘Allah.’ Nabi SAW bertanya lagi, ‘Siapa aku?’ ia menjawab, ‘Engkau adalah Rasul Allah.’ Nabi SAW bersabda memerintah, ‘Merdekakan dia karena sesungguhnya dia seorang wanita mukminah.’”(H.R. Ibnu Hibban [13] dan al-Baihaqi[14])
5. Dari Ibnu Syihab dari Ubaidillah ibn Abdillah ibn Utbah:
أَنَّ رَجُلًا مِنْ الأَنْصَارِ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلى الله عَلَيه وَسَلم في جَارِيَةٍ لَهُ سَوْدَاءَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ عَلَيَّ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً، أفأعتق 
هذه؟ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلى الله عَلَيه وَسَلم: أَتَشْهَدِينَ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ قَالَتْ: نَعَمْ قَالَ: أَتَشْهَدِينَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ  
قَالَ: أَتُوقِنِينَ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى الله عَلَيه وَسَلم: فَأَعْتِقْهَا إذًا.
Ertinya: Sesungguhnya ada seorang dari Ansar datang kepada Rasulullah SAW dengan membawa seorang hamba berkulit hitam, lalu ia berkata, “Hai Rasulullah, atasku ada kewajipan memerdekakan hamba mukmin, apakah aku dapat memerdekakan si ini? Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Apakah engkau bersaksi tiada Tuhan selain Allah?” Ia menjawab, “Ya.” Nabi SAW melanjutkan, “Apakah engkau bersaksi bahawa Muhammad adalah utusan Allah?” Ia pun menjawab, “Ya.” Nabi SAW bersabda lagi, “Apakah engkau meyakini adanya kebangkitan setelah kematian?” Ia menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Merdekakan dia.”(H.R. Malik)[15]
Ibnu Abdil Barr dalam kitab al-Tamhid, syarah al-Muwatha’ mengatakan mengenai hadits ini bahawa zahir riwayatnya adalah mursal, namun dapat dianggap bersambung sebab Ubaidillah berjumpa dengan sejumlah sahabat Nabi SAW.[16]
Dari beberapa hadits ini saja sudah terlihat kepada kita terdapat perbezaan matan antara satu sama lain yang tidak dapat dikompromikan. 
Dalam hadits riwayat Muslim Nabi SAW bertanyakan “dimana Allah” dan budak itu menjawab : “di langit”, sedangkan dalam riwayat Abdurrazaq perkataan “dimana Allah” dan “di langit” tidak ditemui, demikian juga dalam riwayat Malik, al-Darimi, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi, yang ada justeru kesaksian bahawa Tuhan adalah Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah dan seterusnya. 
Adapun dalam riwayat Ahmad, al-Bazar dan al-Thabrani, zahirnya budak perempuan tersebut adalah bisu, kerana budak itu beberapa kali menjawab pertanyaan Rasulullah SAW dengan isyarat, tidak dengan ucapan langsung.
Pernyataan ahli hadits yang menjelaskan bahawa hadits al-jariah banyak terjadi perbezaan matannya dapat disemak antara lain:
1). Al-Baihaqi mengatakan:
قَدْ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ مُقَطَّعًا مِنْ حَدِيثِ الْأَوْزَاعِيِّ وَحَجَّاجٍّ الصَّوَّافِ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ دُونَ قِصَّةِ الْجَارِيَةِ، وَأَظُنُّهُ إِنَّمَا تَرَكَهَا مِنَ 
الْحَدِيثِ لِاخْتِلَافِ الرُّوَاةِ فِي لَفْظِهِ. وَقَدْ ذَكَرْتُ فِي كِتَابِ الظِّهَارِ مِنَ السُّنَنِ مُخَالَفَةَ مَنْ خَالَفَ مُعَاوِيَةَ بْنَ الْحَكَمِ فِي لَفْظِ الْحَدِيثِ
“Imam Muslim telah meriwayatkannya dengan memotong (tidak keseluruhan) dari hadits al Auza’i dan Hajaj as Shawwaf dari Yahya ibn Abi Katsir tanpa menyebut kisah Jariyah. Mungkin ia meninggalkan penyebutannya dalam hadits itu disebabkan perselisihan para perawi dalam menukil lafaznya. Dan saya telah menyebutkan dalam kitab al-Sunan pada bab al-Dzihar perselisihan perawi yang menyelisihi Mu’awiyah ibn Hakam dalam redaksi hadits.”[17]
2). Dalam Kasyf al-Astar disebutkan:
قَالَ الْبَزَّارُ: وَهَذَا قَدْ رُوِيَ نَحْوُهُ بِأَلْفَاظٍ مُخْتَلِفَةٍ.
“Al-Bazar mengatakan, “Ini (hadits al-jariah) telah diriwayatkan hadits serupa dengannya dengan lafaz yang berbeza-beza.”[18]
3). Ibnu Hajar al-Asqalani dalam menjelaskan hadits al-jariah ini, mengatakan:
وَفِي اللَّفْظِ مُخَالَفَةٌ كَثِيرَةٌ
“Pada lafaznya banyak terjadi perbezaan.” [19]
Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat difahami kalau sebahagian ahli hadits menganggap hadits al-jariah di atas adalah muththarib (goyang) matannya, kerana datang matannya dalam beberapa jalur yang berbeza satu sama lainnya. sedangkan hadits muttharib adalah dha’if
Al-Muhaddits al-Kautsary (Lahir : 1296 H) dan diikuti oleh Sayyed Hasan al-Saqaf (ahli hadits kontemporari) telah menyebutkan secara tegas bahawa hadits ini muththarib.[20] 
Al-Muhaddits al-Fazha’i al-Idhamy al-Syafi’i (w. 1376 H) menjelaskan kepada kita bahawa lafaz “dimana Allah” dan “di langit” pada hadits jariah tersebut bukanlah ucapan Rasulullah SAW, tetapi hanya merupakan ucapan sebahagian perawi (riwayat bil-makna) yang tersalah dalam pengungkapannya. 
Pembuktian yang dikemukakan al-Idhamy, kerana kaum musyrik Arab tidak keluar dari keadaan mereka sebagai orang musyrik, padahal mereka juga mengi’tiqad bahwa Allah di langit. 
Sesungguhnya yang dapat mengeluarkan mereka dari syirik adalah pengakuan bahawa tiada tuhan selain Allah sebagaimana terdapat dalam riwayat lain mengenai kisah al-jariah ini.[21]
 Dalil bahawa seseorang tidak terlepas dari syirik sehingga ada pengakuan bahawa tiada tuhan selain Allah adalah hadits Nabi SAW berbunyi :
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ،
Ertinya: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan Laa ilaha illallah (H.R. al-Thabrani dengan rijal dipercayai)[22]
Dalam riwayat lain berbunyi:
أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأني رسول الله
Ertinya: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka naik saksi bahawa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. (Muttafaqun ‘alaihi)
Al-Suyuthi mengatakan hadits ini bernilai mutawatir.[23] Al-Munawi juga mengatakan hadits ini mutawatir, kerana telah diriwayat oleh lima belas orang sahabat Nabi SAW.[24]
Hasilnya hadits al-jariah ini tidak dapat menjadi hujjah, kerana hadits ini dha’if menurut sebahagian ahli hadits. Kalaupun hadits ini sahih, maka juga tidak dapat menjadi hujjah, kerana hadits ini adalah hadits ahad. Hadits ahad meskipun sahih tidak dapat menjadi hujjah dalam bidang akidah sebagaimana telah dijelaskan sebelum ini.
Pemahaman hadits al-jariah yang benar
Seandainya hadits al-jariah ini dapat dijadikan hujjah (sekali lagi seandainya dapat dijadikan hujjah), maka pentafsirannya juga tidak sebagaimana zahir matannya sebagaimana dakwaan kaum Mujassimah. 
Hal ini kerana pentafsiran secara zahir bertentangan dengan ijmak ulama yang mengatakan bahawa Allah tidak diliputi oleh tempat dan arah dan demikian juga bertentangan dengan sharih ayat al-Qur’an dan dalil syara’ lainnya sebagaimana telah dikemukakan dalam bahagian 1 tulisan ini. 
Berikut ini penjelasan para ulama mengenai pengertian hadits ini, antara lain:
1. Imam an-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim, berkata:
هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الايمان: أحدهما : الايمان به من غير خوض في معناه 
مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شئ وتنزيهه عن سمات المخلوقات، والثاني : تأويله بما يليق به ، فمن قال بهذا قال: كان المراد 
امتحانُها هل هي موحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده وهو الذي إذا دعاه الداعي استقبل السماء كما إذا صلى المصلي 
استقبل الكعبة وليس ذلك لانه منحصر في السماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة، بل ذلك لان السماء قبلة الداعين كما أن 
الكعبة قبلة المصلين، أو هي من عبدة الاوثان العابدين للاوثان التي بين أيديهم فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة
 للاوثان.
“Hadits ini termasuk hadits-hadits sifat. Tentangnya ada dua aliran (pentafsiran), telah lewat berulang kali keterangan tentangnya dalam Kitabul Iman, Pertama: Mengimaninya tanpa menelusuri maknanya dengan keyakinan bahawa Allah Ta’ala tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya, dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat makhluk. Kedua: mentakwilkannya dengan makna yang layak bagi-Nya. Dan barangsiapa yang mengikuti pendapat ini mengatakan bahawa maksud kandungan hadits ini adalah menguji si hamba wanita itu apakah ia mengesakan Allah dengan mengakui bahawa Zat Maha Pencipta, Mengatur semesta alam dan yang Maha Berbuat segala sesuatu adalah hanya Allah? Dan Dialah yang apabila seorang pendoa memanggil-Nya ia menghadap langit, seperti jika ia solat menghadap Ka’bah. Yang demikian bukan dikeranakan Allah dibatasi di langit sebagaimana Dia tidak dibatasi di arah Ka’bah, akan tetapi kerana langit adalah kiblat para pendoa sebagaimana ka’bah kiblat solat, atau dia (hamba perempuan itu) adalah penyembah patung yang berada di depan para penyembahnya. Dan ketika ia mengatakan: Dia di langit, Nabi SAW memaklumi bahwa dia seorang yang mengesakan Allah bukan penyembah patung.”[25]
2. Qadhi ‘Iyadh mengatakan:
لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقتدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقول الله 
تعالى ءأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الارض ونحوه ليست على ظاهرها
“Tidak diperselisihkan di antara kaum Muslimin, baik ahli fikh, ahli hadits, para teoloqi, ahli fikir dan pengikut di antara mereka bahawa zahir-zahir nas yang datang menyebut Allah di langit seperti firman Allah: “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang ada di langit bahawa Dia akan menunggang balikkan bumi bersama kamu?” dan yang semisalnya itu tidak diertikan secara zahirnya.”[26]
3. Al-Hafizh Ibnu al-Jauzy dalam menjelaskan hadits ini, mengatakan:
قلت: قد ثبت عند العلماء أن الله تعالى لا تحويه السماء والارض ولا تضمه الاقطار وإنما عرف بإشارتها تعظيم الخالق عندها .
“Aku berkata, ‘telah tetap di kalangan para ulama bahawa Allah Ta’ala tidak dirangkum oleh langit dan bumi dan tidak pula dihimpun oleh penjuru, akan tetapi dikenali-Nya dengan isyarat budak perempuan itu ke arah langit kerana pengagungan Zat Maha Pencipta.”[27]
Jadi, isyarat hamba perempuan itu bahawa Allah di langit bukan bermakna sesungguhnya, tetapi hanya sebagai ungkapan pengagungan kepada Allah Ta’ala sebagaimana syair-syair klasik orang-orang Arab telah membuktikan bahawa mereka terbiasa jika hendak mengagungkan sesuatu perkara mensifatinya dengan sesuatu yang tinggi, seperti bait syair yang digubah pujangga kenamaan Arab di masa jahiliyah, ’Antarah ibn Syadda al-Absi:
مقامك في جو السماء مكانه * وباعي قصير عن نوال الكواكب
“Kedudukanmu di awang-awang langit tempatnya * sedangkan lenganku pendek untuk menggapai bintang bintang.”[28]
Akhthal salah seorang penyair terkenal pada zaman Bani Umayyah juga menggubah bait syair berbunyi:
بنو دارم عند السماء وأنتم * قذى الارض أبعد بينما بين ذلك
”Suku Bani Darim di langit sedangkan kamu* debu bumi, duhai alangkah jauhnya antara keduanya.”[29]
4. Membantah Ibnu Zafil yang berpendapat Allah berada di langit, Imam al-Subki dalam kitabnya al-Saif al-Shaqîl Fi ar Raddi ‘ala Ibni Zafîl mengatakan:
أقول: أما القول: فقوله صلعم للجارية "أين الله ؟" قالت: "في السماء" وقد تكلم الناس عليه قديما وحديثا والكلام عليه معروف ولا
 يقبله ذهن هذا الرجل
“Aku berkata: ‘Adapun ucapannya: Sabda Nabi SAW kepada si hamba perempuan, ‘Di mana Allah?’ dan jawapannya, ‘Di langit.’ Ketahuilah bahawa para ulama sejak dahulu hingga sekarang telah banyak membicarakan hadits tersebut. Perbicaraan tentangnya sangat ma’ruf, dan akan orang ini (Ibnu Zafil) tidak menerimanya.”[30]
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas dapat disimpulkan bahawa hadits al-jariah tersebut tidak boleh ditafsirkan menurut makna zahirnya, akan tetapi wajib diserahkan maksudnya kepada Allah Ta’ala tanpa menelusuri maknanya dengan mengi’tiqad bahawa Allah Maha Suci dari mempunyai tempat dan arah (mazhab tafwidh). Atau mentafsirkannya sesuai dengan sifat yang layak bagi kemahasucian Allah Ta’ala sebagaimana tafsiran sebahagian ulama yang telah kita kemukakan di atas.
ALLAH BUKAN DI LANGIT (BAHAGIAN 1)
ALLAH BUKAN DI LANGIT (BAHAGIAN 2)
[1] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 381, No hadits: 537
[2] Al-Juwaini, al-Irsyad, Maktabah al-Khaniji, Mesir, Hal. 419
[3] Al-Juwaini, al-Warqaat, (dicetak pada hamisy Hasyiah al-Dimyathi ‘ala Syarah al-Warqaat), Maktabah Raja Murah, Pekalongan, Hal. 19
[4] Zakariya al-Anshari, Ghayatul Wushul, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 97
[5] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. I, Hal. 187-188
[6] Ibnu Abd al-Barr, al-Tamhid, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 7
[7] Lihat al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. I, Hal. 188
[8] Abdurrazzaq, Mushannaf Abdurrazzaq, Maktabah Syamilah, Juz. IX, hal. 175
[9] Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad bin Hambal, Maktabah Syamilah, Juz. XXV, Hal. 19, No. Hadits 15743
[10] Al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 23
[11] Al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 23-24, No Hadits 42
[12] Al-Darimi, Sunan al-Darimi, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 1514, No. hadits : 2393
[13] Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 418, No. 189
[14] Al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, Maktabah Syamilah, Juz. VII, Hal. 638, No. 15272
[15] Imam al-Malik, al-Muwatha’, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 405, No. 2731
[16] Ibnu Abd al-Barr, al-Tamhid, Maktabah Syamilah, Juz. IX, Hal. 114
[17] Al-Baihaqi, al-Asmaa wal-Shifat, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 325
[18] Al-Haitsami, Kasyf al-Astar, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 14
[19] Ibnu Hajar al-Asqalani, Talkish al-Habiir, Maktabah Syamilah, Juz. III, Hal. 448
[20] Hasan al-Saqaf, Syarah Aqidah al-Thahawiyah, Dar al-Imam al-Rawas, Beirut, Hal. 357
[21] Al-Fazha’i al-Idhamy al-Syafi’i, al-Barahin al- Sathi’ah, al-Mathba’ah al-Sa’adah, Hal. 263
[22] Al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 25.
[23] Al-Suyuthi, al-Jami’ al-Shaghir, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal.2250
[24] Al-Munawi, Faidhul Qadir, Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 188
[25] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. V, Hal. 33-34
[26] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. V, Hal. 34
[27] Ibnu al-Jauzy, Daf’u Syubah, Dar al-Imam al-Rawaas, Beirut, Hal. 189
[28] Al-Khatib al-Tabrizy, Syarah Diwan ’Antarah, Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, Hal. 35
[29] Mahdi Muhammad Nashiruddin, Syarah Dewan al-Akhthal, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 221
[30] Imam al-Subki, al-Saif al-Shaqîl Fi ar Raddi ‘alâ Ibni Zafîl, Maktabah al-Azhariyah lil Turatsi, Kairo, Hal. 82-83
Tuan Guru Kiyai Alizar Usman (MA)